Tag Archives: podcast

[Podcast] Kevin Carter, Joe O Donnell dan Segitiga Eksposur

Nekat update podcast dalam kondisi lidah “terbakar” gara-gara kopi panas 😀

Semoga suaranya masih nyaman untuk didengar.

Advertisements

Foto yang Bercerita

Beberapa waktu yang lalu ada orang tua murid kursus privat fotografi yang bertanya soal bagaimana mendapatkan foto yang pas untuk sebuah lomba yang akan diikuti oleh anaknya.

 

Pertanyaan ‘Obyeknya apa, ya?’ itu paling susah dijawab kalau berhubungan dengan tema sebuah lomba. Karena untuk membuat sebuah foto, harus ada inisiatif dari pemotretnya.

Jadi saya nggak jawab pertanyaan itu, justru saya balik bertanya, kira-kira putranya mbak punya pemahaman seperti apa tentang ketiga tema yang dilombakan? Nanti dari pemahaman itu, harus digali lagi kira-kira konsep foto seperti apa yang pas dengan pemahamannya.

Lalu ortunya murid ini mengiyakan dan mau berdiskusi dulu dengan putranya. Ya semoga setelah ketemu konsep dan ide fotonya, putranya sudah tahu tekniknya dari apa yang saya ajarkan dulu. Kalau belum, saya pasti ngerasa gagal jadi pengajar, hiks..

Istri saya kebetulan seorang dosen, sepupu saya juga, banyak deh orang di sekitar saya yang berprofesi jadi pengajar di bidang ilmu masing-masing. Selain dari guru-guru fotografi, dari istri dan sepupu ini saya banyak belajar tentang bagaimana jadi pengajar yang baik. Termasuk bagaimana cara ngejawab pertanyaan. Saya selalu berusaha memberi jawaban yang kira-kira bisa membuka pandangan si penanya tentang hal-hal baru dan berusaha sebisa mungkin si penanya akhirnya mampu menjawab pertanyaannya sendiri karena dia sudah mengerti permasalahannya dan menemukan solusinya.

Memahami sebuah masalah ini penting ketika kita hendak memotret. Sebaiknya kita tahu kenapa kita kepingin motret sebuah benda atau suatu peristiwa? Lalu bagaimana cara motretnya? Karena kalau sekedar memotret, jaman sekarang mah hampir semua orang sudah bisa memotret. Sering dong lihat foto sebuah cangkir kopi atau foto selfie di IG atau FB? Itu karena semua orang sudah bisa memotret. Alasan mereka motret cangkir kopi ya karena mereka mau menyampaikan pesan bahwa mereka sedang menikmati kopi yang enak di sebuah tempat. Ini oke aja kalau tujuan kita memotret sekedar untuk iseng, tapi kalau kita motret untuk kepentingan yang lebih serius, sebaiknya digali lagi alasan dan bagaimana caranya memotret supaya lebih terlihat bermakna. Saya sering memberikan dua contoh foto dari dua fotografer untuk menerangkan hal ini. Keduanya adalah foto yang sudah melegenda di dunia fotografi.

Foto pertama adalah karya Joe O’Donnell yang memotret seorang anak yang sedang membawa adiknya setelah peristiwa bom nuklir Hiroshima dan Nagasaki.

Saya awalnya hanya merasa sedih ketika melihat foto ini karena saya membayangkan telah terjadi musibah di suatu tempat dan anak tersebut harus menggendong adiknya tanpa ditemani orang tua. Sedih, tapi ya cuma sedih aja. Tapi kemudian ketika membaca sebuah wawancara dari seorang jurnalis Jepang dengan Joe O’Donnell tentang alasan kenapa dia mengabadikan momen ini, saya jadi sangat terkesan. Ini cuplikan wawancaranya,

“I saw a boy about ten years old walking by. He was carrying a baby on his back. In those days in Japan, we often saw children playing with their little brothers or sisters on their backs, but this boy was clearly different. I could see that he had come to this place for a serious reason. He was wearing no shoes. His face was hard. The little head was tipped back as if the baby were fast asleep. The boy stood there for five or ten minutes”.

“The men in white masks walked over to him and quietly began to take off the rope that was holding the baby. That is when I saw that the baby was already dead. The men held the body by the hands and feet and placed it on the fire. The boy stood there straight without moving, watching the flames. He was biting his lower lip so hard that it shone with blood. The flame burned low like the sun going down. The boy turned around and walked silently away”.

Jadi ternyata anak dalam foto tersebut sedang membawa adiknya yang sudah meninggal untuk dikremasi. Saya jadi ikut merasakan kesedihan anak itu dan bagaimana dia harus tetap tegar menghadapinya. Bagi saya foto ini menjadi sangat kuat ceritanya ketika saya mengetahui cerita dibalik kejadian tersebut.

Foto Joe O’Donnell ini konon menginspirasi sebuah film Jepang yang berjudul Grave of the Fireflies, sayangnya sampai sekarang saya belum sempat cari filmnya.

Lalu foto yang kedua adalah karya Kevin Carter, foto ini bagi saya sudah mampu bercerita dan sangat dramatis tanpa perlu keterangan apapun. Foto ini yang membuat Kevin Carter mendapatkan Pulitzer Prize for Feature Photography di tahun 1994.

The vulture and the little girl, by Kevin Carter

Cerita tentang Kevin Carter juga menarik. Ada sebuah film yang menceritakan kisah Kevin Carter dan beberapa foto jurnalis, nanti saya akan ceritakan di podcast Ngecuprus sebagai episode lanjutan dari NgeFot, atau Ngecuprus Fotografi, yang ini:

Di episode ketiga nanti saya juga mau ngecuprus soal segitiga eksposur, main-main ke podcast saya, ya. Saya tunggu, lho.