Untuk Yuyun Dan Korban Kekerasan Seksual Lainnya

Untuk Yuyun, semoga kamu tenang di alam sana, nak. Semoga para pelaku mendapatkan balasan maksimal di dunia dan akhirat nanti.

Untuk ribuan korban kekerasan seksual, serta seluruh keluarganya, semoga mendapatkan pertolongan dan ketabahan dari Tuhan yang maha adil.

Maafkan saya dan sebagian dari kami yang hanya mampu berdoa dan menuliskan kesedihan kami untuk kalian.

Sedih rasanya ketika lagi-lagi mendengar berita pemerkosaan, terlebih kalau berujung pada kematian. Rasanya mau mengumpat, mengutuk, bahkan kalau bisa mau ikut menghakimi para pelaku secara fisik atas nama sang korban.

Mungkin perasaan ini yang sejak kemarin membuat saya gagal terus menuliskan tentang Yuyun, saya nggak mau terjebak menuliskan kekerasan untuk menjawab peristiwa kekerasan lainnya. Bahkan sebisa mungkin saya mencoba tidak mengumpat ketika mengomentari berita ini di media online yang saya baca.

Saya nggak nyaman kalau sekedar bereaksi negatif atas berita negatif, maunya bisa memberi bantuan meringankan korban dan keluarganya, tapi sayangnya saya belum mampu.

Evil cannot and will not be vanquished by evil. Dark will only swallow dark and deepen. The good and the light are the keenest weapons. – Nora Roberts.

Continue reading

Memilih Pemimpin Sesuai Akidah

Saya suka dengan yang berpegang teguh pada syariat dan akidah. Karena sebagai umat beragama, keimanan adalah patokan segalanya. Mengukur iman tentu harus dilihat sejauh mana umat Islam menjalankan tuntunan Allah dan Rasul. Tuntunan Allah bisa dilihat dari Quran. Tuntunan Rasul, salah satunya, bisa dicontoh dari tindakan beliau.

Setuju ya? Continue reading

Intel: Dari Sudut Pandang Lain.

Setelah zaman orde baru, kata ‘intel’ ini seperti terdegradasi maknanya. Istilah intel atau intelijen yang menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti: orang yg bertugas mencari (meng-amat-amati) seseorang; dinas rahasia. Dari situ sudah terlihat gimana beratnya tugas orang yang punya profesi ini.

Mereka ini, terutama yang bekerja di lapangan, kadang memang harus bisa menjadi ‘orang lain’. Dia harus bisa lepas dari jati diri aslinya dan harus menguasai betul peran yang ia jalankan demi suksesnya misi yang diemban.

Sayangnya di zaman sekarang, intelijen kadang digunakan sebagai bahan untuk olok-olok. Atau, bisa saja seseorang mengaku sebagai orang intel untuk tujuan yang gak jelas.

Secara tugas dan kewajiban, jujurly saya gak gitu ngerti detailnya. Saya cuma bisa membayangkan beratnya tugas mereka. Lha wong jadi diri sendiri aja kita kadang harus berhati-hati demi menjaga nama baik, apalagi para petugas intelijen yang harus hidup dengan identitas lain.

Continue reading

YNWA: Semangat yang pas.

You’ll Never Walk Alone. Ini sebetulnya sebuah lagu. Kemudian dijadikan nyanyian wajib bagi pendukung Liverpoool FC (LFC). Sejarahnya bisa diintip di sana.

Pasca pensiunnya Zizou, saya memang agak malas menonton sepakbola karena ngerasa kehilangan greget. Semacam kehilangan nyawa gitu deh. Kemudian, setelah gak sengaja browsing sana-sini, saya menemukan lagu YNWA ini. Awalnya cuma suka dengan liriknya. Lalu jadi tertarik dengan LFC.

Singkat cerita, saya suka dengan lirik:

“When you walk through a storm. Hold your head up high, And don’t be afraid of the dark. At the end of the storm, There’s a golden star (sky), And the sweet silver song of a lark”

Di situ terkesan optimisme yang kuat. Iya kan? LFC memang sedang terpuruk karena kesalahan pemiliknya yang lama, tapi kita tetap optimis dan menaruh harapan pada pemilik yang sekarang.

Continue reading

Tentang Ayah

Waktu Hari Ayah, saya sengaja tidak tweeting #tentangayah di Twitter. Rasanya lebih enak ngeblog karena lebih terdokumentasi. Saya beruntung karena sampai saat ini masih bisa didampingi ayah dan ibu, tapi jujurly, cuma sedikit yang bisa saya ingat tentang ayah saya.

Kami sekeluarga memanggil beliau dengan sebutan, bapak. Bukan papa, bukan ayah, tapi bapak. Kenapa? Ya mana saya tau, sejak lahir saya terima jadi aja 😀

Kebetulan saya anak bungsu, jadi waktu saya lahir, bapak sudah mulai memasuki masa meniti karir yang cukup enak. Waktu itu beliau sudah menjadi perwira menengah, jadi sudah mulai banyak tanggung jawabnya sebagai perwira angkatan darat. Selain mulai bisa merasakan hidup yang lebih nyaman, kami juga harus rela berbagi perhatian dengan institusi itu. Apalagi beliau termasuk orang yang punya prestasi, bahkan sejak masih menjadi taruna.

Continue reading

Ngebocorin curhatan (sekali) lagi

Sejak punya blackbery, jadi makin banyak yang sering nge-PING!!! dan menumpahkan curhatannya 😀

Saya sih senang kalau bisa sharing, sukur-sukur kalau bisa ikut mecahin masalahnya. Tapi konon katanya, orang curhat itu kadang gak selalu perlu solusi, kadang mereka cuma perlu didengar.

Saya juga senang menulis di blog ini tentang apa yang dicurhatin ke saya, tentu dengan persetujuan kawan yang curhat. Apalagi kalau isi curhatnya sangat serius, kalau gak serius, ya saya posting aja hehehe..toh gak nyebut nama kan?

Continue reading

Indonesia! Bukan Indonesu!

Awas, artikelnya bakal panjang. Sila pindah blog lain kalau males baca yang panjang, tapi kalau tetap baca, sila baca sampai habis dan tinggalkan komentar yang bisa memotivasi. Makasiiih 😉

Nesu, adalah bahasa Jawa yang berarti marah. Iya, saya marah. Gak tau marah dengan siapa.

Saya (baru) marah karena terpancing video gak senonoh yang melibatkan beberapa orang yang “mirip” artis itu. Saya marah, karena topik itu memuncak di twitter. Saya marah, karena lagi-lagi yang terangkat dari Indonesia adalah hal yang negatif. Mereka sadar gak sih, kalau kelakuan para “mirip” pesohor itu mau gak mau akan membawa nama bangsanya?

Saya marah, karena sudah lama memendam rasa kecewa.

Dulu, waktu saya kecil, saya terdoktrin dengan kata-kata “Indonesia adalah negara yang berbudaya, rakyatnya ramah dan memiliki adat ketimuran yang luhur”.

Lalu, ketika saya kuliah di Australia, tepatnya Canberra dan Melbourne, saya justru lebih banyak belajar tentang budaya yang lebih baik. Semua teratur dan rapi. Mengurus apapun mudah. Saya bukan tipe yang luar-negeri-minded, sama sekali bukan. Tapi secara jujur, kesan ramah dan tertib itu justru saya dapat dari orang-orang bule itu.

Continue reading

Test Drive, Nikah, Window Shopping.

Ini gara-gara teman saya curhat via bbm, jadi pengen ditulis di blog.

Kawan saya itu, cewek, akhir-akhir ini sedang sering ngobrol sama cowok yang menurut dia seru banget jadi teman ngobrol. Cuma masalahnya, si cowok itu sudah punya pacar. Sementara kawan saya ini, konon katanya, masih single.

Nah, kawan saya khawatir kalau dari kebiasaan ngobrol itu kemudian muncul rasa sayang. Lha kalau dia yang sayang sama cowok itu sih gak masalah, selama bisa nahan rasa, tentu gak akan ada masalah. Yang bakal jadi masalah adalah, kalau si cowok itu juga jadi naksir dia. Soalnya kan, cowok itu sudah punya pacar. Eh..pede abis ya lo, yakin banget kalau itu cowok bakal naksir elo 😀

Continue reading

Mengakali Rutinitas (part 2)

Melanjutkan artikel sebelumnya, saya kepingin cerita aja tentang cara saya mengakali rutinitas.

Gampang kok, seperti kebanyakan orang, saya juga memelihara tuyul mimpi dalam bekerja/menjalani rutinitas. Salah satu mimpi, atau cita-cita saya, adalah bisa bekerja untuk team produksi dalam program National Geography atau Discovery Travel and Living. Malah dulu sempat banget kepingin bisa bergabung dengan tim produksinya Asha Gill :mrgreen:

Nah, selain punya mimpi, saya juga mencari hobi untuk menghilangkan kebosanan. Hobi saya murah kok, menulis. Menulis kan gak perlu modal macam-macam. Sekarang ini, asal kita punya koneksi internet, kita bisa nulis melalui banyak media. Oh iya, menulis yang saya maksud ini bukan menulis sebuah karya sastra yang aduhai gitu. Cukup ngecuprus di twitter, itu sudah menyenangkan hati saya. Atau, ya ngeblog. Seperti sekarang ini.

Intinya, banyak kok cara untuk ngilangin jenuh karena rutinitas. Boleh juga tuh kayak teman saya yang satu ini, dia kalau lagi bosen, pelariannya beli mobil dan ambil sekolah Master 😀 *colek Kiky ah*

Mengakali Rutinitas

Buat sebagian orang, termasuk saya, rutinitas itu bisa mematikan kreativitas. Untungnya saya gak terlalu kreatif, jadi yang mati ya cuma sedikit :mrgreen:

Lalu setelah ada bisikan halus dari bidadari kayangan menonton sebuah film, yang saya juga lupa judulnya, saya jadi bisa mengakali rutinitas yang menerpa (menerpa?? enggak banget bahasa gue!) keseharian saya.

Di film itu dibilang, selain mematikan kreativitas, rutinitas itu cenderung membuat orang kurang bisa mensyukuri diri sendiri. Kalau pakai istilah bule, take for granted.

Contohnya aja, sewaktu kita baru bangun tidur, banyak orang yang suka langsung beranjak dari tempat tidurnya. Otaknya secara otomatis langsung bekerja dengan memikirkan rutinitas yang harus dikerjakan. Misalnya, ibadah pagi, menyiapkan sarapan atau sekedar bergegas menuju toilet untuk buang hajat. Atau malah, segera bergegas pulang ke rumah pasangan resminya *oops..

Setelah semua urusan di rumah kelar, pastinya kita melanjutkan aktivitas kita. Ada yang berangkat kerja, ada yang kuliah dan ada juga yang selingkuh lagi *halah*. Kalau sudah sampai di kantor, rutinitas semakin menggila. Dan biasanya, kita melakukan semua sesuai kebiasaan. Entah itu menyalakan komputer, order kopi atau sekedar membaca koran yang tersedia di meja kerja. Kadang semua itu dilakukan tanpa sadar. Karena memang sudah menjadi sesuatu yang rutin.

Continue reading