Inkonsistensi BTP

Lini masa media sosial riuh banget saat menjelang dan setelah bebasnya BTP dari tahanan di Kelapa Dua.

Dari sekian banyak cuitan di twitter dan status FB, ada satu yang menarik dan membuat saya kepingin ngecuprus di blog lagi.

Ini tentang inkonsistensi yang dilakukan oleh BTP.

Seperti yang sudah diberitakan, Ahok lebih suka disebut dengan BTP setelah bebas dari tahanan.

Itu sebabnya saya, pemerhati dan enthusiast level receh soal bahasa Indonesia, jadi terpancing oleh status FB kawan saya ini.

Jadi kepikiran nggak sih, kenapa dulu blio diberi nama Basuki Tjahaja Purnama? Kenapa bukan Basuki Cahaya Purnama atau Basoeki Tjahaja Poernama agar soepaja tertjipta konsistensie dalam namanja?

Kalau ada yang tahu alasannya, tolong informasikan di kolom komentar ya.

Kalau ada yang sebal karena merasa terjebak oleh judul yang sok serius padahal isinya receh, berarti kamu baru pertama main ke sini atau memang belum kenal sama yang punya blog ini, ehehe. Saya cuma serius kalau bahas fotografi, selebihnya kebanyakan receh.

Apalagi ini update blog pertama di awal tahun, ya kalik bakal ngecuprus yang serius 🥴

Ya sudah, selamat menikmati tahun politik. Beda pilihan boleh, benci jangan. Ibarat ngopi, mau tubruk hayuk, mau french press boleh, mau metode drip monggo, mau cold brew atau ala Turki juga silakan. Karena apapun metodenya, ngopi yang paling nikmat itu saat sembari ngobrol santai dengan teman atau dengan pasangan kalau punya. Yo ra, mblo?

1 Comment

  1. Beliau lahir pada tahun 1966, pada saat itu memang masih berlaku Ejaan Republik, yang mulai dipakai tahun 1947 menyempurnakan ejaan Van Ophuijsen yang dipakai sejak 1901. Perbedaannya antara lain sebagai berikut:
    Huruf oe menjadi ‘u’, seperti pada goeroe → guru.
    Bunyi hamzah dan bunyi sentak yang sebelumnya dinyatakan dengan (‘) ditulis dengan ‘k’, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
    Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti ubur2, ber-main2, ke-barat2-an.
    Awalan ‘di-‘ dan kata depan ‘di’ kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dimakan.

    Ejaan ini berlaku sampai tahun 1972 lalu digantikan oleh Ejaan Yang Disempurnakan pada masa menteri Mashuri Saleh. [Walaupun pada antara tahun 1947 sampai 1966 pernah disusun Ejaan Pembaharuan (1957) dan Ejaan Melindo (1959), namun keduanya tak diresmikan pemerintah sebagai ejaan resmi.

    Terlepas dari sejarah dan nama di akta kelahiran maupun KTP, semestinya untuk keseharian boleh kok pakai ejaan yang berlaku saat ini, seperti yang mayoritas digunakan buku-buku luar negeri. Alih-alih menggunakan Soekarno atau Soeharto, mereka pilih pakai Sukarno dan Suharto.

    Like

Leave a Reply to datangbulan Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s