Menjadi Warganet yang Baik, yuk!

Teman-teman yang usianya 30 tahun ke atas, dalam suatu masa pasti ada yang pernah ‘diancam’ pakai kalimat, “Maemnya dihabisin, kalau gak dihabisin nanti ayamnya mati!”

Saya mendengar kalimat itu dulu waktu di rumah eyang, di Karanganyar, Solo. Entah siapa yang mengucapkan, tapi yang jelas ucapan itu ditujukan ke kami, anak-anak kecil setengah tak berdosa yang sedang makan barengan. And I was like, haaaaa gak adil! Kenapa kami yang harus menanggung mati hidupnya ayam-ayam Eyang?

Namanya juga anak kecil setengah tak berdosa, maklumin aja kalau doyan protes.

Ternyata kejadian soal ayam itu, walaupun hoax, ada gunanya. Gunanya ya untuk memaklumi sebagian besar orang yang masih suka termakan hoax sampai hari ini. Bahkan setingkat mantan Menkominfo juga beberapa kali membagikan foto hoax. Lha piye, sejak kecil kebanyakan dari kita udah dikenalkan hoax legendaris semacam kalau pas wayah maghrib masih main di luar, nanti digondol wewe. Atau ya soal ayam mati karena kita enggak habisin makanan.

Waktu itu saya kesel sih dibohongin, tapi ternyata sekarang ada gunanya. Ya disyukuri aja. Sama kayak waktu remaja dibohongin cewek, ya disukuri aja. Sukur! Gitu. #curhat

Di era digital ini, pengalaman-pengalaman masa lalu seperti itu harusnya bisa dijadikan pelajaran dan dihindari. Jaman dulu mah mana bisa googling soal ayam mati gara-gara kita gak habisin makanan? Kalau sekarang kan informasi berlimpah, hanya sejarak ujung jempol pula.

Bahkan saking berlimpahnya, dalam satu pekan ini ada kawan yang membahas tentang literasi digital dan ada beberapa yang membagikan tips menangkal hoax. Mungkin ini terpicu dari makin banyaknya pengguna internet dan penikmat dunia digital namun belum sepenuhnya paham dengan literasi digital.

Literasi digital bisa diartikan dengan kemampuan seseorang dalam memahami, mengelola dan memanfaatkan informasi berbasis teknologi digital. Termasuk di dalamnya adalah media sosial dan berbagai aplikasi percakapan.

Source Pixabay by geralt

Jadi bagaimana cara kita menguasai literasi digital? Saya pun sebenarnya masih banyak belajar soal ini. Dari sekian sumber yang saya baca, beberapa menyarankan untuk enggak malas cek dan ricek informasi yang kita dapat. Inipun kadang-kadang saya masih kecolongan, sudah cek dan cek ulang sebelum membagikan, di belakang hari baru ketahuan ternyata hoax juga. Duh.

Jadi misalkan kita dapat foto dari seseorang dan orang tersebut meminta kita mengedarkan fotonya, sebaiknya cek dulu kebenaran foto itu. Salah satu caranya bisa cek di image.google.com. Atau bertanya ke orang lain yang dianggap lebih paham tentang foto tersebut. Lalu kalau fotonya valid, pikirkan lagi ada enggak faedahnya kita ikut menyebarkan foto itu. Kalau memang enggak ada gunanya, walaupun fotonya valid, enggak perlu juga kita sebarin. Etapi terserah sih, wong jempolnya sendiri, tanggung jawab ya ditanggung sendiri.

Demikian juga kalau kita mendapatkan sebuah berita, coba dianalisa dulu. Cari bahan bacaan yang valid dan berhubungan dengan beritanya. Coba dicerna dengan baik. Lalu jika berita itu benar, tentukan sendiri apakah perlu dibagikan atau enggak.

Banyak yang menyarankan untuk berhati-hati dalam menyebarkan berita atau beropini tentang sebuah berita. Apalagi berita yang berhubungan dengan agama. Ada kawan yang berkeluh kesah soal ini. Dia bilang, gila banget ya jaman sekarang. Gampang banget orang beropini bahwa pemeluk agama tertentu itu terzalimi di negara kita. Padahal tiap hari masih bebas melakukan ritual agamanya, libur panjang pun tersedia untuk memperingati hari besar agama. Kok ya gampang bener dikompori seolah-olah mereka dipersulit dan dibenci oleh kelompok lain.

Saya cuma jawab, ya mungkin efek dari cerita ayam mati gara-gara kita gak habisin makanan. *pasang muka polos*

Lalu apakah proses cek dan ricek, menganalisa, mengelola dan memahami itu hanya berlaku untuk berita dan foto yang penting aja? Kalau dari yang saya baca, itu berlaku untuk semua hal. Bahkan ketika kita mendapatkan info soal kecelakaan ringan, dan berniat menyebarkannya, kita harus paham dan menegakkan etika. Seperti misalnya tidak menyebarkan foto-foto korban. Toh kalau beritanya memang sangat menyedihkan, enggak perlu juga kan ditambahi foto? Hormati para korban tersebut dengan cara tidak menyebarkan fotonya.

Menurut saya sih bener juga. Lha wong kita aja kalau lagi foto bareng suka ngecek dulu posenya asyik atau enggak dan keliatan gembrot apa enggak sebelum diunggah ke medsos. Bayangin perasaan para korban yang, misalnya, mukanya lebam atau penuh darah itu fotonya kita sebarin dengan semena-mena. Kasihan, kan? Dan memang enggak etis juga sih.

Ini ada panduan sederhana tentang netiket dari politwika.com

Dari semua sumber yang saya baca dan hasil dari obrolan dengan teman-teman, kesimpulannya adalah, untuk menjadi warganet yang baik harus tahu etika dan lebih bagus juga kalau paham tentang UU semacam UU ITE. Sama deh kayak kita menjadi warga di lingkungan sekitar. Harus tahu sopan santun, hukum, dan seni bergaul.

Dalam bahasa jawa ada istilah memayu hayuning bawana ambrasta dur hangkara yang artinya kurang lebih, dalam hidup di dunia kita harus mengusahakan keselamatan dan kesejahteraan serta menghilangkan angkara murka dan keserakahan. Melawan hoax dan beretika di dunia maya menurut saya termasuk dalam memayu hayuning bawana ambrasta dur hangkara. Toh nyatanya sekarang ini apa yang dibahas di dunia maya punya dampak juga di dunia nyata.

Jadi kalau bisa berlaku baik dan membangun dunia yang nyaman untuk dijadikan tempat bergaul, ya hayuk kita lakukan bersama-sama. Bisa dong? Yuk!

Btw, dunia ini bulat atau datar? Kyaaaa.

Source Pixabay by Alexas_Fotos
Advertisements

6 thoughts on “Menjadi Warganet yang Baik, yuk!

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s