How “Indon” Can You Go?

Bukan bermaksud melunturkan semangat memperingati kemerdekaan Indonesia, tapi sekedar menumpahkan uneg-uneg saja. Kemarin saya melihat karikatur ini di akun twitter @ndorokakung.

Menurut saya, karikatur ini sarat makna. Siapapun pembuatnya, saya salut! Maafkan karena keterbatasan yang saya punya, saya nggak bisa menelusuri siapa pembuat karikatur ini.

Melihat tikus-tikus yang menggerogoti bendera Indonesia yang sedang dijahit, pikiran saya nggak cuma terbayang ganasnya koruptor di dunia nyata tapi juga jadi teringat pengalaman sehari-hari.

Untuk ikut menumpas perilaku korup, kemampuan saya masih sangat sedikit. Jadi walaupun gemas ketika menyaksikan atau sekedar membaca berita korupsi, paling jauh saya hanya bisa berdoa supaya Indonesia makin dijauhkan dari segala perilaku bejat.

Lain halnya ketika menjumpai perilaku yang salah di bidang lain. Seperti misalnya, salah menggunakan bahasa Indonesia. Sebisa mungkin saya akan mencoba mengingatkan pelakunya dan memberitahukan kesalahannya. Syukur kalau dia mau membetulkan kesalahannya, tapi kalau tidak pun tak apa. Paling tidak saya sudah memberi tahunya. Inipun tidak saya lakukan setiap saat kok, apalagi kalau sedang ngobrol santai atau sekedar chatting via messenger, kecuali kalau sedang iseng sih ehehe. Biasanya saya hanya bawel tentang bahasa ketika menemukan kesalahan yang digunakan untuk keperluan formal atau penggunaan yang sifatnya informatif dan untuk disebar ke banyak orang.

Kebiasaan ini ternyata nggak selalu mendapatkan hasil yang positif, sering juga saya dicemooh atau dibilang sok pintar dan rese. Ya ndak papa juga sih, wong saya ya pernah bebal, kalau dikasih tau pasti ngeyel. Lagipula apa yang saya sampaikan itukan sekedar ilmu yang saya dapat dari para ahli bahasa atau juga dari buku yang saya baca. Jadi saya hanya seorang penyampai pesan.

Bagi saya, kesalahan penggunaan bahasa Indonesia juga bisa disimbolkan dengan tikus-tikus yang menggerogoti bendera di karikatur itu. Digerogoti sedikit demi sedikit, lama-lama akan habis. Yang salah akan dianggap benar. Salah kaprah. Mungkin kesalahan dalam penggunaan kata ‘bahasa’ bisa dijadikan contoh. Sudah mulai banyak orang asing yang mengucapkan, I can speak bahasa. Kalimat I can speak bahasa ini maknanya sudah melenceng jauh. Karena yang dia maksud adalah ‘Saya bisa berbicara bahasa Indonesia’, maka seharusnya yang dia ucapkan adalah, “I can speak Indonesian language,” bener gak? Lha kalau si orang asing ini ngomong I can speak bahasa, harusnya kita tanya, “Bahasa apa? Zimbabwe? Hong Kong? Apa?”. Yang sering terjadi malah orang Indonesia menjawabnya dengan, “Good…goood”, sambil ngasih dua jempol. Lha piye sih?

Suatu hari saya pernah bercerita tentang kejadian itu, tapi tanggapan dari kawan saya malah, “Halah, gitu doang lu rempong amat.”

Iya sih saya rempong. Saya rempong karena di waktu yang lain, banyak orang Indonesia yang kebakaran jenggot -bahkan yang nggak punya jenggot pun merasa jenggotnya terbakar- ketika ada orang Malaysia atau Singapore yang menyebut Indonesia dengan sebutan Indon. Sebutan indon ini bisa merebak karena salah satunya kita gak mau rempong di awal. Kalau ada yang menggunakan kata indon, banyak orang Indonesia yang diam saja, tapi menggerutu di belakang. Lha piye?

Sebutan indon ini memang konotasinya negatif atau merendahkan, makanya banyak orang Indonesia yang tersinggung kalau disebut indon. Padahal nggak selalu begitu. Saya, dan terutama istri saya, sering menjumpai orang asing yang menggunakan kata indon hanya karena dia mengira indon ini sama artinya dengan Indonesian. Ada juga yang menyangka indon ini adalah singkatan untuk penyebutan negara Indonesia. Sama dengan sebagian orang kita yang suka nyebut Sing untuk negara Singapura atau Auzzie untuk Australia. Jadi mereka benar-benar tidak bermaksud melakukan pelecehan.

Istri saya yang pernah terlibat diskusi panjang tentang penyebutan indon dengan kawan-kawannya di Malaysia. Dia menerangkan secara sabar dan runut, akhirnya bisa mengubah kebiasaan kawan-kawannya sehingga tidak lagi menyebut indon untuk merujuk orang atau negara Indonesia. Semoga kawan-kawannya itu menyebarkan informasinya ke teman mereka yang lain sehingga akan semakin berkurang penggunaan kata indon di luar sana.

Tidak ada keinginan dari saya dan istri untuk dianggap pintar dalam berbahasa. Lha wong kami kalau ngomong juga masih acakadul kok. Cuma sebisa mungkin kami mempelajari yang benar dan menyebarkannya, karena kalau bukan kita, siapa lagi yang bakal peduli dengan bahasa Indonesia? Masa iya orang Mexico? Kan nggak.

Cuma kadang-kadang saya kesel juga sih, di luar sana sibuk mencegah bangsa lain menggunakan kata indon kalau merujuk Indonesia, sementara di negeri sendiri banyak kawan yang menyebut indo ketika merujuk Indonesia, ahahaha. Emang segitu susahnya ya menulis atau menyebut secara lengkap nama Indonesia? Ah.

Terus terang, semakin banyak mempelajari bahasa Indonesia, saya semakin banyak menemukan salah kaprah. Salah satu contohnya adalah penggunaan kata ‘Dirgahayu’. Tadi siang menemukan artikel ini dari http://benwal.blogdetik.com/2013/08/17/yus-badudu-bicara-dirgahayu

Yus Badudu Bicara Dirgahayu

Bayangkan kesalahan seperti ini masih berlangsung hingga sekarang. Jangan marah kalau kemudian ada yang menyebut bangsa kita sebagai bangsa yang malas mempelajari bahasa sendiri. Daripada marah, mari kita introspeksi dan mulai membenahi penggunaan bahasa Indonesia. Ya nggak perlu juga kemudian kita ngobrol menggunakan bahasa Indonesia yang baku, capek bener. Minimal kita belajar supaya tidak ikut membenarkan sesuatu yang salah. Termasuk jika menemukan kesalahan di tulisan saya ini, monggo dikoreksi.

Mau kan, ya?

Advertisements

3 thoughts on “How “Indon” Can You Go?

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s