1 Cara Tepat Menghadapi Temanmu Yang Gay

Sering kali terlibat obrolan dengan banyak kawan tentang orientasi seksual seseorang. Ketika bahas tentang LGBT, banyak kawan yang ujung-ujungnya malah melempar pertanyaan, “Kalau anak lo gay, reaksi lo gimana?”

Lha wong diskusi kok malah ujungnya doain anak saya. Tapuk lambemu sisan.

Jadi dari pengalaman-pengalaman itu, kalau ada yang bertanya pendapat dan cara saya menghadapi teman atau orang yang punya orientasi seksual berbeda, ya sekarang saya jawab dengan, “Santai ajalah, repot amat?”

Lagipula, apa sih masalahnya kalau kita punya kenalan gay, lesbian atau biseksual? Takut dipengaruhi? Kalau mereka mencoba mempengaruhi dan kita gak suka, ya dijauhi aja.

Bagi yang punya anak, ajari anak-anak sedini mungkin tentang pergaulan dan berbagai macam pengetahuan, termasuk tentang seks. Tentu penyampaiannya harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka menyerap informasi.

Kenapa harus diajari bermacam pengetahuan? Karena soal pengaruh-mempengaruhi ini nggak cuma tentang orientasi seksual saja, ada juga orang yang mempengaruhi kita dan keluarga kita untuk sering ke mall, mencoba narkoba dan miras, traveling, bahkan untuk jadi fans klub bola emyu. Makanya bekali mereka dengan banyak ilmu dan ajari mereka untuk mampu menggunakan ilmu itu untuk membuat penilaian dan keputusan yang tepat. (Khusus untuk bola liga Inggris, saya ajarkan value ke anak saya tentang kebersamaan, you’ll never walk alone. Bukan melulu soal kemenangan. Yang ngerti liga Inggris pasti pahamlah)

Terus terang dari dulu saya nggak pernah peduli dengan orientasi seks kawan-kawan saya. Cukup cari tahu aja, ini orang asyik nggak dijadiin kawan. Karena value saya dalam bergaul ya cuma itu, nyaman atau nggak. Sama halnya saya nggak peduli dengan hobi kawan-kawan saya, kalau mereka hobi olahraga saat CFD sementara saya lebih suka jajan makanan selama CFD, apa masalahnya? Value utamanya kan, sama-sama pergi saat CFD, selama di sana ya terserah masing-masing mau ngapain.

Kalau mau bahas lebih luas, coba deh dipikir, misalnya kita suka dengan novel-novel seorang penulis atau suka dengan film-film buatan seorang sutradara, lalu suatu saat kita tahu bahwa ternyata dia gay atau ternyata dia suka nyimeng atau ternyata dia sombongnya setengah mati kalau ketemu penggemar, apa kita kemudian bakal jadi nggak suka dengan karya-karya mereka? Dan bagi sebagian pengguna produk Apple, apa akan berhenti memakai produknya kalau tahu bahwa Tim Cook, CEO Apple, adalah seorang gay?

Jawabannya ya kembali ke masing-masing individu, kalau jawaban saya mah, “Santai ajalah, repot amat mikirin hidup orang lain?” Gitu aja.

Advertisements

One thought on “1 Cara Tepat Menghadapi Temanmu Yang Gay

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s