Pembalap Gokart, Ammar Pradira Putra

Kecelakaan itu hal yang sering terjadi di lintasan balap, tapi kaget nggak sih kalau itu terjadi pada anak umur 8 tahun? Siang itu dia berusaha menghindari pembalap gokart di depannya yang tiba-tiba melintir. Berhasil sih, tapi walhasil dia keluar lintasan dan menabrak dinding pembatas. Semua menahan nafas melihat kejadian itu. Orang-orang berlarian mendekati lokasi kecelakaan, race stewards dan officials menghampiri gokartnya dan berusaha mengevakuasi pembalap cilik itu. Ketika sudah berhasil dievakuasi, sang ayah menggendongnya menuju ruang medis. Terlihat bocah itu menangis dalam gendongan sang ayah.

Namun sesaat kemudian semua bernafas lega melihat si pembalap cilik berjalan keluar dari ruang medis dengan santai bersama ayahnya. Ammar, si pembalap cilik itu, seperti sudah lupa kejadian tadi dan nggak lama kemudian dia terlihat kembali bermain dengan kawan-kawannya. Bahkan dia masih sanggup mengikuti balapan heat kedua.

Hari Minggu itu, awalnya saya hanya berniat berburu foto di Sentul International Karting Circuit karena diajak M. Indra Prasetyo menonton putranya yang ikut serta di ajang balap gokart Rotax Max Challenge. Tapi ketika menyaksikan Ammar, putranya Indra, mengalami kecelakaan ringan di lintasan, saya jadi tertarik menulis tentang Ammar dan hobi balapannya ini.

Indra, yang juga sudah malang melintang di dunia otosport sebagai navigator rally dan berduet dengan Rifat Sungkar, bercerita bahwa Ammar mulai mengikuti ajang balap gokart sejak umur 6 tahun. Sekarang ini Ammar bergabung dengan Kanaka Racing dan bertarung di kelas Cadet 60cc. Saya tidak menanyakan prestasi Ammar. Saya yakin selama 2 tahun ini pasti dia sudah pernah merasakan podium. Terus terang saya lebih tertarik dengan apa yang bisa didapat oleh anak seusia Ammar dari aktivitas yang digelutinya ini.

Ammar, kart #5

Kalau melihat Ammar Pradira Putra di lintasan balap, pembalap cilik yang beralis tebal ini nggak terlihat seperti anak umur 8 tahun. Gaya membalapnya sudah mirip dengan pembalap dewasa, dia sudah paham racing line, sudah tahu kapan moment terbaik untuk menyusul pembalap di depannya, bahkan gerakan refleksnya pun sudah cukup baik. Nyatanya dia mampu menghindari pembalap lain yang melintir, walaupun kemudian Ammar membentur tembok lintasan, tapi itu lebih baik dibanding dia bertabrakan dengan lawannya. Pasti akibatnya akan lebih fatal

Bisa menguasai hal-hal di atas itu setahu saya nggak gampang. Dulu, sekitar tahun 90-an, saya pernah juga mencoba kegiatan motorsport walaupun nggak serius karena sekedar hobi. Memahami teori racing line itu relatif gampang, intinya kita harus mampu memaksimalkan rute terbaik saat di lintasan lurus dan saat hendak memasuki sebuah tikungan demi mendapatkan catatan waktu terbaik. Jadi kita harus ngerti menentukan titik pengereman ketika hendak menikung dan harus paham sudut mana yang terbaik untuk masuk dan keluar dari tikungan. Yang kemudian menjadi sulit itu ketika harus menjaga emosi dan nggak mampu memanfaatkan momentum. Ya maklum, ketika berada di lintasan bersama sekian banyak pembalap, kadang-kadang nafsu untuk mendahului itu lebih besar dibanding perhitungan matang. Akibatnya nggak jarang jadi terlambat menginjak rem atau terburu-buru mengambil celah demi bisa menyusul mobil di depan, yang ada malah jadi kehilangan waktu atau kemungkinan terburuk ya nyenggol mobil lainnya. Runyam deh.

Nah, ketika melihat secara langsung kiprah Ammar yang masih berusia sangat muda ini, saya kagum dengan kemampuannya menjaga emosi. Soal skill, saya yakin selama 2 tahun dia sudah banyak mendapatkan ilmu mengemudi dan cara balapan yang benar. Tapi menjaga emosi itu tentu perlu usaha ekstra dari dia sendiri dan tentu bantuan dari banyak orang dan terutama dari orangtuanya untuk melatih kematangan mental Ammar. Kalau dia masih labil, saya yakin setelah dia mengalami kecelakaan pasti mood-nya akan berubah. Malah mungkin nggak akan sanggup melanjutkan heat kedua. Perkara dia menangis karena tangannya terbentur kemudi, ya wajarlah, namanya juga kesakitan, tapi yang terpenting adalah bagaimana sikap dia setelah itu. Begitu diperiksa tim medis dan dinyatakan tidak ada cedera serius dan rasa sakitnya hilang, ya sudah, semua kembali normal. No drama what so ever! Hebat, kan?

Jadi, secara nggak sadar sebetulnya Ammar juga mengalami pembentukan karakter dari kegiatan yang ditekuninya ini. Saya yakin, semua kompetisi dan segala macam bentuk kegiatan positif yang diikuti oleh anak-anak seusia Ammar pasti akan membentuk karakter yang baik bagi mereka. Tapi khusus di ajang balap, di mana adrenalin sangat terpacu, kematangan dan kesabaran akan ditempa lebih maksimal. Bahkan mungkin nggak hanya untuk Ammar, tapi juga bagi orangtuanya. Orangtua yang menemani anaknya balapan pasti harus mampu memberi dorongan semangat sekaligus menjaga emosi juga. Jangan sampai menekan anaknya untuk menjadi juara dan kemudian malah berujung pada ketidak nyamanan si anak menjalani balapannya.

Para orangtua juga harus mampu menilai situasi saat berada di sekitar sirkuit supaya mampu bereaksi dengan tepat, saya nggak melihat Indra menjadi panik atau marah saat Ammar kecelakaan. Ini penting, karena kalau dia terlalu emosional pasti akan berpengaruh juga terhadap Ammar.

Tentang pembentukan karakter, saya rasa semua anak peserta balap gokart ini juga diajari tentang menikmati sebuah proses. Pagi itu, ketika saya sampai di Sentul dan kenalan dengan Ammar, dia terlihat bersemangat. Saya nggak tahu dia tadi harus bangun jam berapa dan harus sampai di sirkuit jam berapa demi bisa mengikuti balapan hari itu, yang jelas dia nggak terlihat mengantuk atau bosan. Padahal sebelum race itu sendiri, dia masih harus mengikuti warming up. Warming up ini adalah kesempatan bagi para pembalap untuk mencoba lintasan balap dan setingan kendaraannya, setelah itu ada QTT atau qualifying time trial. Saat QTT ini lagi-lagi pembalap harus turun ke lintasan untuk mendapatkan waktu terbaik yang akan digunakan sebagai penentuan posisi start saat balapan nanti. Balapannya sendiri kalau nggak salah dibagi menjadi 4 heat. Masing-masing heat terdiri dari 8 lap atau putaran.

Dan jangan lupa, tahapan-tahapan itu berlaku untuk semua kelas. Hari itu kalau saya nggak lupa, ada 5 kelas pembalap. Ammar tergabung di kelas Cadet 60cc. Soal pembagian kelas, browsing aja lah, saya lupa, hehehe. Jadi kebayangkan berapa lama mereka harus menunggu giliran? Kalau mereka gak disiplin, saya yakin mereka akan bosan, kalau mereka bosan, konsentrasi akan berkurang. Padahal yang namanya konsentrasi itu penting di semua jenis kompetisi. Dan dalam kehidupan sehari-hari, menjalani sebuah proses itu penting. Gak semua harus didapat secara instan, kan?

Lalu apa manfaat hobi Ammar ini untuk kehidupan sehari-hari? Wew…ya semoga banyak lah. Beberapa di antaranya, dia bisa belajar sabar dan tertib saat mengantri, ngerti membuat keputusan yang benar di saat yang tepat, lalu kalau sudah besar dan boleh mengemudi nanti nggak akan menggunakan bahu jalan tol untuk ngebut, dan pastinya nggak akan menerjang trotoar pakai motor. Eh, ini ada pembaca yang merasa tersindir nggak? 😛

Saat hendak pulang, saya sempat mencari tahu apa cita-cita Ammar nanti. Ternyata dia lebih tertarik untuk menjadi pereli ketimbang di ajang open wheeler. Sebagai penyuka olahraga otomotif, saya mengamini cita-citanya dan berharap dia bisa berprestasi. Syukur kalau dia bisa menjadi pereli internasional, sebagai warga Indonesia pasti kita bangga kalau ada anak Indonesia yang namanya bisa setara Sebastien Loeb, Carlos Sainz, Markku Alen dan lainnya.

Sebagai manusia biasa yang juga seorang ayah, saya pun mendoakan Ammar agar bisa menjadi seorang anak yang berkarakter kuat, punya visi dan integritas dari pengalaman hidupnya semasa kecil. Apapun profesi yang dia pilih nanti, semoga apa yang dia pelajari di masa kecilnya ini akan berguna untuknya. Oh iya, doa ini berlaku juga untuk semua anak Indonesia, termasuk anak saya, sebagai generasi penerus kita nanti. Aamiin.

Advertisements

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s