2015

When you walk through a storm
Hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm
There’s a golden sky
And the sweet silver song of a lark

Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown

Walk on walk on with hope in your heart

Penggalan lagu You’ll Never Walk Alone yang dijadikan lagu wajib oleh pendukung Liverpool FC ini layak saya jadikan lagu pembuka tahun 2015. Bagi yang kenal dekat dengan saya, pasti tahu gimana serunya jalan hidup saya selama 4 tahun terakhir ini. Sekarangpun masih seru, seru-seru cihuy gitu deh.

Alhamdulillah, selama tahun 2014 sudah mulai bisa membuat beberapa rencana. Walaupun belum bisa terlaksana semua, tapi yang penting ada kemajuan. Sayangnya perut saya juga termasuk yang mengalami “kemajuan” (lagi). *kemudian diteror foto-foto yoga dari Mbak Bromo*

Rasanya menyenangkan bisa mengawali tahun dengan banyak rencana yang solid, apalagi tahun-tahun sebelumnya saya hanya bisa membuat rencana supaya di tahun berikutnya bisa menyusun rencana *mbulet*. Oh iya, tahun yang saya pakai ini tahun masehi, bukan tahun Islam. Ya gimana dong? Semua jadwal pakai tahun masehi. Kan gak mungkin saya booking tiket penerbangan di web sebuah maskapai LCC dengan tanggal 12 Rajab 1436, misalnya.

Lalu kenapa saya menulis artikel ini dengan judul 2015? Karena, alhamdulillah, salah satu rencana saya bisa terlaksana, bahkan nyaris tanpa persiapan. Menjelang akhir tahun 2014 dan di awal 2015 ini saya bisa merealisasikan rencana traveling. Tanggal 1 Januari 2015 saya bisa bersampan menyusuri Rammang-rammang. Bisa bertemu banyak kawan baru.

Rammang-rammang, Maros.

Rammang-rammang, Maros.

Lalu beberapa hari yang lalu, tanpa sebuah rencana apapun, saya ditraktir ke Belitong. Dan saat ini, saya sudah memegang tiket untuk ke Kuala Lumpur dan Surabaya. Alhamdulillah. Beberapa tahun yang lalu, semua itu mustahil. Bahkan untuk sekedar pergi dari Depok ke Blok M pun saya harus berpikir 1.259 kali. *iya, ini agak lebay sih*

Tapi dengan kondisi seperti itupun saya masih bisa traveling ke beberapa kota. Entah itu karena pekerjaan, atau karena ditraktir saudara-saudara saya. Jadi yang namanya rejeki itu memang betul-betul tidak bisa diduga. Makanya kita wajib optimis dalam kondisi apapun.

Khusus soal traveling, bagi saya ini memang seperti rejeki bawaan sejak di kandungan ibu. Saya lahir di Bandung ketika orangtua bertugas di sana. Lalu saat saya baru berumur sekian bulan, konon sudah dibawa pindah ke kota lain. Bahkan saya menjalani masa SD 6 tahun di 8 kota. SMP di 2 kota. SMA 3 kota. Makanya ketika saya harus berdomisili di sebuah kota selama bertahun-tahun, rasanya sangat menyiksa. Macam siksaan bayangan mantan. Halah.

Jadi bisa membayangkan gimana bahagianya saya bisa mengawali tahun baru dengan traveling kan? Saya sih cuma bisa banyak mengucap syukur dan terus berusaha supaya tidak mengalami lagi segala kesulitan yang pernah saya alami dulu.

Cukuplah sampai di sini tulisan ini, kalau diteruskan nanti malah jadi curhat. Di artikel berikutnya akan ada cerita pengalaman traveling kemarin. Pasti itu bakal lebih banyak gunanya daripada ngecuprus soal masa lalu, iya kan? Yuk ah, tetap optimis dan ceriwis cihuy dalam kondisi apapun. Kesulitan akan selalu ada, tapi seperti penggalan lirik lagu di atas, at the end of the storm – there is a golden sky. Walk on, walk on with hope in your heart.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s