Ini Pilihan Saya

Sejak masa kampanye dimulai, saya bingung menentukan pilihan antara Prabowo dan Jokowi. Semua kandidat punya kelebihan dan kelemahan. Dari hasil browsing sana-sini, saya menemukan alasan untuk memilih dan, sayangnya, sekaligus juga untuk tidak memilih.

Sekedar contoh, saya tertarik dengan karakter Prabowo yang mampu membawa dirinya pada posisi sekarang. Bayangkan, dia sosok eks militer yang terpinggirkan, tapi justru mampu menonjolkan diri dibanding para purnawirawan lainnya yang berpartai. Memang isu pelanggaran HAM cukup mengganjal. Sayangnya tidak pernah ada keputusan yang nyata tentang hal ini dari sebuah persidangan.

Pada ketokohan Jokowi pun saya tertarik, walaupun dia diterjang dengan masalah tidak amanah, bagi saya ini ibarat orang yang berprestasi lalu mendapat promosi untuk naik jabatan. Tapi tetap saja, promosinya terlalu cepat. Tadinya saya berharap dia bekerja dulu di DKI untuk mematangkan kemampuan.

Saya baru menemukan alasan untuk tidak mendukung salah satu Capres pada tanggal 25 Juni 2014. Saya ingat tanggal itu karena bertepatan dengan 1 tahun meninggalnya bapak. Waktu itu saya sedang di Semarang, jadi hanya bisa mengirim doa untuk almarhum bapak tanpa datang ke makamnya di TPU Pondok Ranggon. Saat berdoa saya teringat, bapak yang dulunya perwira tinggi di TNI AD itu sebisa mungkin selalu menjauhkan dunia militernya dari saya.

Sewaktu beliau masih perwira menengah dan saya masih bersekolah, bapak pernah bilang, kalau kamu mau jadi tentara seperti bapak ya masuk AKABRI. Kalau tidak, jangan sok-sokan nentarani. Istilah ’nentarani’ ini mungkin maksudnya jangan memakai latar belakang keluarga tentara untuk mendapat keuntungan di kehidupan sehari-hari. Dan memang itu yang saya rasakan. Mungkin saya ini 1 dari sedikit anak Panglima Kodam yang merasakan ditilang polisi karena melanggar aturan lalu lintas.

Betul bahwa ketika bapak punya jabatan tinggi, hidup saya enak. Sekolah diantar jemput pakai mobil, mau liburan ke manapun nyaris selalu bisa, pokoknya berbagai kemudahan dalam hidup hampir semuanya saya nikmati, tapi semua kemewahan itu saya dapat karena hasil kerja keras bapak. Jadi selama dalam lingkup tanggung jawabnya membesarkan anak, sudah pasti hasil kerja kerasnya akan saya nikmati. Tapi kalau saya berbuat salah, jangan harap saya akan lolos karena status anak pejabat.

Semakin tinggi jabatan dan pangkat bapak, semakin banyak fasilitas yang saya punya sebagai anak. Tapi itu berbanding lurus dengan semakin jarangnya saya ketemu beliau. Dan sialnya, ibu pun terbawa kesibukan karena harus terlibat di berbagai organisasi sebagai istri tentara. Jadi sebagai anak, saya harus berbagi perhatian bapak dan ibu dengan negara. Saking sibuknya mereka, entah berapa kali saya harus mengambil raport sendiri, entah berapa kali saya ditinggal di rumah hanya dengan pembantu berhari-hari karena bapak dan ibu harus mengunjungi daerah-daerah di wilayah Kodam, bahkan saya pernah sendirian di rumah ketika berulang tahun.

Hal yang sama mungkin dirasakan oleh kakak-kakak saya. Bahkan bisa jadi mereka lebih sering merasakan nggak enaknya jadi anak tentara karena mereka sempat hidup terpisah di kota lain demi merasakan pendidikan yang lebih layak. Saya, karena anak bungsu, hampir selalu dibawa ke kota manapun tempat bapak bertugas.

Ada semacam kebanggaan sekaligus kegelisahan ketika melihat bapak memakai seragam tentaranya. Bangga karena saya tahu beliau memikul banyak tanggung jawab dan juga terlihat gagah saat mengenakan seragam itu. Gelisah karena sebagai anak kecil, saya tidak pernah tahu apakah akan sempat bermain, berkeluh kesah atau sekedar bercerita hal-hal gak penting yang saya alami hari itu. Dari semua kenyamanan dan ketidak nyamanan itu, saya justru jadi mencintai bapak dan pekerjaannya.

Maka ketika pecah kerusuhan Mei yang diiringi antipati kebanyakan orang terhadap tentara, saya sedih. Saat itu bapak sudah pensiun, saya sekeluarga tidak lagi harus berbagi dengan negara ketika hendak menikmati waktu bersama bapak. Bapak sudah sepenuhnya milik kami, keluarganya. Tapi saya bisa melihat kesedihan bapak ketika banyak berita tentang para jenderal yang saling tuduh atau tentang seorang jenderal yang dicopot dari jabatannya karena diduga menculik dan menghilangkan nyawa rakyat sipil. Kebanyakan dari para jenderal itu adalah adik angkatan bapak, bagian dari ”keluarga” beliau juga.

Sudah sejak lama sebetulnya bapak bersuara keras menentang keterlibatan militer dalam kehidupan sipil, tapi suara seperti itu di masa orde baru tentu hanya seperti kentut. Orang yang merasa terganggu akan menutup hidung sebentar, lalu jika dirasa perlu, orang yang kentut akan dijauhkan.

Bapak tidak pernah mengeluh ketika karirnya terhenti dan kemudian memasuki masa purnabakti. Kami sekeluarga justru senang karena bisa benar-benar memiliki seorang ayah. Tapi ketika melihat bapak sedih karena institusinya dihina dan dilecehkan orang di masa pensiunnya, kami dan terutama saya, merasa ikut terpukul.

Walau bagaimanapun, ABRI di jamannya punya banyak prestasi dan berjasa dalam membangun NKRI. Dan di dalam tubuh ABRI itu terdapat keluarga-keluarga kecil seperti keluarga saya yang harus rela sedikit berkorban membagi perhatian ayah kami dengan negara. Tetapi karena segelintir orang yang memanfaatkan kebesaran ABRI untuk sebuah kekuasaan, nama besar institusi inipun tercoreng. Pengorbanan kami yang walaupun tak seberapa itu rasanya jadi percuma.

Saya termasuk orang yang setuju ketika militer dipisahkan dari sipil di era reformasi. Menurut saya, biarlah kehidupan bernegara diurusi oleh sipil. Tentara murni menjadi alat pengamanan kedaulatan negara saja. Dan untuk sementara, para purnawirawan TNI tidak usah terlibat dulu di dalamnya. Walaupun purnawirawan adalah sipil juga, tapi rekam jejaknya sebagai militer tetap akan diingat orang.

Saya sedih kalau melihat nama TNI dihina dan dijelekan karena perbuatan segelintir orang, maka dari itu, saya memutuskan untuk menolak militerisme dalam kehidupan sipil justru karena saya sangat mencintai dunia militer yang sudah menghidupi keluarga kami. Alasan ini memang sangat personal, tidak seseksi alasan penolakan karena pelanggaran HAM misalnya, tapi inilah alasan yang mungkin tidak akan bisa dibantah. Dan saya harus siap dengan segala resikonya.

Seandainya ada pilihan ketiga, tentu akan saya pertimbangkan, tetapi karena saat ini hanya ada 2 pilihan, maka saya memilih Joko Widodo karena saya sudah move on dari militerisme. Saya akan dukung Jokowi sampai tanggal 9 Juli 2014, dan bila nanti dia terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, saya akan mengubah dukungan saya menjadi sebuah pengawasan. Kalau dia melanggar janji, saya akan bersuara walau tidak terdengar, saya akan membuat perlawanan walau hanya berupa tulisan di blog ini, tapi yang terpenting saat ini adalah keputusan pribadi saya untuk memilih presiden yang bukan eks militer.

Tetapi, siapapun yang menjadi presiden, tentu saya akan menghormati hasil itu. Toh ini yang namanya berdemokrasi.

move on

Salam damai, salam dua jari.

Advertisements

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s