3 Hal Penting Dalam Fotografi

Sebetulnya banyak yang penting kalau ngobrol soal fotografi, tapi kalau baru mulai belajar, ada 3 yang harus dipahami duluan. Yaitu tentang teknik, isi pesan dan tentang artistik. Eh iya, sebelum mulai belajar tentang 3 hal itu, ada 1 hal yang gak kalah penting, yaitu…punya kamera. Kamera apapun yang penting berfungsi normal.

Kita bahas satu-persatu, yuk! Pertama soal teknik. Dalam fotografi, teknik pencahayaan dapat porsi terbesar, setelah itu tentang focusing. Kalau ngomongin pencahayaan, maka yang kita bahas adalah aperture atau diafragma, kemudian kecepatan rana, dan yang terakhir adalah ISO. Kalau soal focusing, serahkan aja sama kecerdasan kamera dan lensa. Maksudnya, pakai auto focus aja. Simpel.

Aperture, ini biasanya ditandai dengan angka ’f’ atau f/stop. Ini yang menentukan banyaknya cahaya yang masuk. Urutan f/stop dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah: f/1 – f/1,4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5,6 – f/8 – f/11 – f/11 – f/16 – f/22. Lha kenapa angka yang kecil justru melambangkan bukaan diafragma besar? Ndak usah bingung, bayangin aja ’f’ ini adalah pizza. Jadi kalau misalnya f/2, kita bacanya ‘pizza dibagi 2’. Ini tentu lebih besar dibanding dengan potongan f/16 atau ‘pizza dibagi 16’. Bener ndak?

Ehiya, selain urusan cahaya, aperture ini juga punya campur tangan dengan urusan depth of field (DOF) atau ruang tajam, biasanya muncul pada saat kita memakai aperture besar seperti f/1.8 atau f/2.8 dan lainnya. DOF biasa disebut juga dengan bokeh. Bokeh itu asalnya dari bahasa Jepang kalau ndak salah. Coba googling aja.

Lalu kenapa pada aperture besar bisa bokeh sedangkan di aperture kecil gak bisa? Gampangnya gini aja, kalau kita melihat dengan mata lebar tentu gak semua area terlihat tajam kan? Di sisi kanan dan kiri biasanya ketajaman berkurang (blur). Beda dengan kalau kita mempersempit pandangan, coba tutup sisi luar mata kita dengan kedua telapak tangan, atau pakai teropong deh, semua terlihat lebih tajam kan? Ya kurang lebih DOF seperti itu lah.

Kecepatan rana atau shutter speed, ini yang mengatur lamanya cahaya yang terekam oleh film atau sensor kamera. Semakin lama kita membuka rana, misal 1 atau 5 detik, maka makin banyak cahaya yang terekam. Sebaliknya, kalau kita atur kecepatan pada 1/30 atau 1/250 detik, maka makin sedikit cahaya yang terekam. Selain tentang cahaya, kecepatan rana ini punya efek menghentikan gerakan. Makin cepat shutter speed, maka benda yang bergerak akan terlihat diam. Kalau mau bikin foto levitasi, ya pakailah kecepatan 1/200, 1/500 detik dan seterusnya.

ISO, ini mengatur sensitivitas sensor kamera terhadap cahaya. Kalau memotret di tempat terang, pakai ISO rendah, misalnya ISO 100 atau 200. Jika kondisi cahaya kurang, pakai ISO tinggi, misal ISO 800 atau ISO 1600. Tapi hati-hati, semakin tinggi ISO biasanya kualitas cahaya yang terekam akan menurun. Lalu bisa nggak kita motret dalam kondisi kurang cahaya dengan ISO rendah? Ya bisa. Coba seting dengan aperture besar. Atau mainkan shutter speed  rendah. Atau, yang paling gampang adalah, pakai-bantuan-lampu-flash. Gampang tho?

Aperture-shutter-ISO chart. Source http://twistedsifter.com/

Tentang pencahayaan kurang lebihnya seperti itulah.

Sekarang tentang isi pesan dalam sebuah foto. Pasti semua sudah tahu bahwa kata ’photography’ itu serapan dari bahasa Yunani, yaitu ’photos’ yang berarti cahaya dan ’grafos’ yang punya arti menulis. Coba browsing juga tentang camera obscura. Pasti nanti akan lebih jelas. Singkatnya, fotografi adalah bahasa gambar.

Jadi kalau kita memotret, sebenarnya kita sedang berusaha menyampaikan sebuah pesan. Misalnya kita mau bercerita tentang pembangunan kembali sebuah daerah yang pernah tertimpa bencana, kita tinggal ambil foto suasananya dan beri keterangan lokasi.

Lhoknga, Aceh. Beberapa tahun setelah tsunami.

Karena fotografi adalah bahasa gambar, penting bagi kita untuk memahami aperture, shutter speed dan ISO karena mereka bertiga itu yang berkaitan dengan cahaya. Ibaratnya gini deh, enggak akan mungkin kita berkomunikasi dengan orang asing kalau kita tidak menguasai bahasa yang sama. Nah, dalam fotografi ini bahasanya adalah cahaya. Jadi mau nggak mau ya itulah yang harus kita pelajari dahulu.

Kalau pencahayaan sudah dipelajari dan kita sudah bisa membuat foto yang berbicara, maka hal selanjutnya yang gak kalah penting adalah tentang artistik. Sisi artistik ini tentang keindahan sebuah foto, ini bisa diciptakan melalui komposisi. Masalahnya adalah, komposisi tidak bisa diatur oleh kamera. Fotografernya yang harus menentukan komposisi seperti apa yang mau dipakai dalam sebuah foto. Ini murni tentang rasa, tentang kepekaan kita menangkap moment, tentang bagaimana kita menciptakan sebuah foto yang nyaman dilihat. Kuncinya ya harus sering melihat foto hasil karya orang lain yang bagus dan kemudian melatih diri sendiri supaya bisa membuat karya yang baik juga.

Banyak juga foto yang pencahayaannya biasa saja tapi terlihat menarik karena moment yang tertangkap sangat pas atau si fotografer bisa memaksimalkan komposisinya. Ini sering terjadi pada foto jurnalistik atau pada genre streetphotography.

Rumus komposisi ada banyak, contohnya; rule of thirds, framing, shape, leading lines, color composition dan masih banyak lagi. Oh iya, soal komposisi ini ada baiknya untuk selalu menyederhanakan gambar atau keep it simple! Lagi-lagi, ini semua tergantung pada kepekaan kita sebagai orang yang memotret.

Video Steve McCurry di bawah ini bisa menjelaskan tentang komposisi dalam fotografi.

Kalau cahaya kita anggap sebagai rumah, maka komposisi ini bisa diibaratkan seperti cara mengatur interior rumah supaya nyaman untuk dihuni. Salah satu cara untuk bisa menciptakan ruangan yang nyaman adalah dengan cara melihat buku-buku desain interior lalu kemudian kita coba terapkan di rumah kita dengan berbagai penyesuaian dengan kondisi yang ada. Ya sama aja dengan foto, cari referensi lalu kemudian praktekan.

Jadi, komposisi adalah seni mengatur atau penataan berbagai benda dalam sebuah frame. Frame-nya apa? Ya view finder di kamera atau screen di ponsel kita itu. Makanya kita harus membiasakan diri untuk mengamati dulu apa yang tertangkap dalam frame sebelum menekan tombol rana. Awalnya memang merepotkan, tapi lama-lama akan menjadi mudah kok. Sama seperti saat dulu kita belajar berhitung di sekolah dasar, ribet banget ya ngitung 32 dikali 2, sekarang mah dengan mudah akan kita jawab dengan cepat tanpa harus menggunakan kertas untuk menghitung.

Owkay, setelah ditulis detail, ternyata gak cuma 3 hal yang penting tentang fotografi. Lha tapi kalau saya tulis judul dengan ’120 Hal Penting Dalam Fotografi’ pasti bakal sedikit yang mau baca. Tapi kalau dirangkum, ya isinya memang cuma teknik, isi pesan dan artistik. Ini aja belum tentu banyak yang mau mampir dan baca sampai habis, hihihi.

Intinya, fotografi memang tentang praktek. Belajar teori itu penting, tapi lebih penting lagi untuk berlatih, berlatih dan berlatih. Berlatih juga gak harus pergi hunting kok, nemu bunga yang jatuh di halaman juga bisa dijadikan obyek latihan. Saya juga masih dalam tahap berlatih, jadi kalau ada yang mau menambahkan kekurangan yang ada di tulisan saya ini, monggo lho. Jangan sungkan.

Advertisements

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s