Resolusi Sebagai Penyuka Fotografi

Saya sebetulnya jarang membuat resolusi setiap tahun. Lha wong tiap tahun niatnya selalu sama; kepingin menikmati hidup sepuas-puasnya. Soal detail cara mencapainya, atau tentang apa aja yang mau dinikmati, rasanya nggak perlu diketahui orang lain. Sama seperti ketika menggunakan ponsel, saya gak perlu tahu bagaimana cara kerja si ponsel. Selama pesan saya bisa tersampaikan ke lawan bicara, sudah cukuplah.

shootingKecuali untuk tahun ini, gara-gara membaca sebuah artikel, mendadak jadi kepingin menuliskan sedikit resolusi yang berhubungan dengan hobi fotografi. Dulu, ketika memutuskan untuk serius belajar fotografi, sebetulnya separuh nafas saya masih ada di dunia videografi. Sampai sekarang pun masih sering dipakai, eh kata apa dalam bahasa Indonesia yang enak untuk mengganti kata ’hired’? Disewa? Ah terserahlah, kembali ke topik, saya sampai hari ini masih sering di-hired sebagai crew dalam sebuah produksi video. Entah itu pembuatan iklan komersial, iklan layanan masyarakat atau pembuatan company profile. Nah, karena semakin lama semakin serius memadu asmara (ampun deh bahasa gue) dengan dunia fotografi, tahun ini saya mencoba membuat resolusi. Inipun dibikin semudah-mudahnya supaya yakin bisa mengeksekusi niat yang dibuat sendiri.

Resolusi pertama saya sebagai fotografer adalah, membuat lebih sedikit foto keluarga dibanding tahun-tahun sebelumnya. Iyalah, ketika dulu berniat jadi fotografer, yang pertama bersorak kegirangan tentunya keluarga besar saya yang narsis sangat suka berfoto. Nggak tau kenapa, wajah mereka itu mendadak sumringah kalau ketemu kamera foto. Misalnya, ketika mereka suntuk karena harus bangun pagi buta untuk berdandan demi acara pernikahan saudara, saat ditodong dengan kamera, langsung senyum. Atau kalau sedang bete karena capek dan kepanasan saat family trip, ditodong kamera, langsung senyum. Bahkan ketika sedang asyik khusyuk bergosip dalam acara arisan, mata mereka tetap jeli melihat kelebatan kamera, dalam sepersekian detik, langsung senyum. Jangan-jangan ini bukan urusan kejelian mata, saya sempat curiga semua keluarga saya punya indera keenam untuk mendeteksi kehadiran kamera. Hebat deh pokoknya. Keluarga kalian mungkin gitu juga ya?

Tahun ini, saya bertekad untuk tidak murahan ketika diminta untuk memotret mereka. Bukan pelit shutter count, cuma rasanya lebih enak kalau bisa membuat tiga atau empat foto yang bagus dibanding membuat seratus foto tapi dengan pose itu-itu saja. Mudah? Nggak juga. Dengan tingkat keganasan keluarga saya di depan kamera, resolusi yang ini sebetulnya agak beresiko untuk dilakukan. Bahkan mungkin status dalam keluarga bisa pula terancam. Tapi saya harus yakin bisa. Lagipula ini saatnya si anak bungsu menunjukan kejantanan di tengah keluarga. Pasti bisa! (halah). Motifnya di sini adalah, mengurangi kegiatan berfoto dalam acara keluarga dan memperbanyak interaksi dalam bentuk obrolan.

Resolusi yang kedua, mengurangi memajang foto keluarga atau foto apapun ke media sosial. Atau boleh saja tetap menampilkan foto-foto itu ke facebook, twitter dan instagram asalkan diimbangi dengan memperbanyak mencetak foto. Sekarang ini sudah banyak pilihan untuk mencetak hasil foto kita, mulai dari cetak biasa dengan ukuran 4R, mencetak dalam bentuk photobook, sampai mencetak ukuran sangat besar dan dipajang di pinggir jalan. Eh, janganlah dipajang di pinggir jalan. Itu cukup untuk para politisi, kita sebaiknya tetap berlaku waras saja.

Saya rasa resolusi kedua ini bisa menyelematkan ketika saya melaksanakan resolusi pertama. Keluarga pasti bahagia kalau dikasih hasil foto yang bagus. Cemberutnya mereka saat jarang difoto pasti akan terbayar lunas ketika menerima foto dengan ukuran 22R, misalnya. Status saya di keluarga pasti aman. Semoga.

Selain untuk mengamankan posisi di dalam keluarga, di resolusi yang kedua itu sebetulnya ada motif untuk belajar editing dan memperbanyak portofolio sebagai fotografer. Iyalah, ketika kita hendak mencari klien, nggak mungkin juga kita menyuruh mereka buka facebook, flickr atau instagram kita. Pasti ada hasil cetak yang mau mereka lihat. Iya, kan?

kopiResolusi ketiga, ini sebetulnya masih berhubungan dengan resolusi pertama. Sama-sama mengurangi jepretan foto, hanya beda motifnya saja. Untuk resolusi yang ini, saya berniat akan lebih berpikir sebelum memotret. Misalnya, ketika sedang di cafe, saya akan berpikir apakah saya perlu memotret cangkir kopi yang ada di meja? Atau ketika ketemu matahari yang sedang tenggelam, pikirin dulu tentang komposisi. Singkatnya, sebelum menekan tombol rana saat hendak memotret apapun, saya harus lebih memikirkan cerita apa yang bisa disampaikan dari foto itu, apakah sudah ada orang lain yang menceritakan? Lalu bagaimana caranya supaya cerita saya bisa semenarik atau bahkan lebih menarik dari cerita orang lain itu. Apakah cerita saya harus dibuat menarik atau cukup sekedar menyampaikan sebuah informasi saja? Karena seperti kata orang-orang yang dulu ngajarin dasar ilmu fotografi, sebuah foto itu sebetulnya adalah media untuk menyampaikan pesan. Sebuah pesan dalam bahasa gambar. Sebuah foto adalah sebuah cerita. Bagaimana kita menyampaikan cerita itu, tentu perlu pemikiran dan tanggung jawab. Gitu kata mereka.

Inti dari resolusi yang ketiga ini adalah, nggak semua sunset, cangkir kopi atau cewek cantik harus kita pamerkan. Kalau kata guru saya, jika kita andaikan sebuah foto sebagai bahasa, maka semakin sedikit kita bicara, kemungkinan besar justru akan didengar oleh orang lain. Ya layaklah resep ini untuk dicoba.

Pantai Panjang, Bengkulu.
Pantai Panjang, Bengkulu.

Itu saja resolusi saya yang berhubungan dengan hobi. Teman-teman punya resolusi apa yang berhubungan dengan hobinya masing-masing?

Advertisements

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s