Memoligami Ibu Kota

Niat mencabut status Jakarta sebagai ibu kota ini sudah terdengar sejak lama. Bahkan sudah nyaris terjadi pada jaman Soeharto dengan proyek Jonggol. Niatnya baik, tujuannya pun mulia. Tapi dengan reputasi pengelola negara yang, sayangnya, kurang bagus ini, semua niat baik hampir selalu berakhir dengan hasil negatif.

Kita tengok sebentar beberapa proyek besar yang melibatkan nama negara, lalu kita lihat bagaimana hasilnya. Pertama, yang masih saya ingat, adalah pembangunan sirkuit Sentul yang dulu konon dibuat untuk mendatangkan balap Formula 1 ke Indonesia. Sirkuitnya jadi, ajang balapnya? Entah. Konon salah satu penyebab gagalnya karena kondisi perekonomian Indonesia mengalami krisis dan kemudian disusul dengan gejolak politik. Bahkan ajang balap kelas dunia dari genre rally yang sudah berkali-kali kita laksanakan di Medan pun harus berhenti karena situasi negara yang berantakan. Tapi sirkuit Sentul itu selesai dibangung tahun 1994 ya? Krisis moneter adanya tahun 1997.

Lalu seandainya kondisi negara saat itu stabil, apakah proyek F1 di Sentul akan berhasil? Agak sulit ngejawabnya. Tapi kalau kita lihat dari penyelenggaraan ajang balap A1GP beberapa tahun lalu yang, konon, gengsinya mendekati balap F1, banyak sekali kekurangan dari sirkuit Sentul. Saya lupa perbaikan apa saja yang harus dilakukan pengelola sirkuit saat itu, tapi yang pasti saya ingat, beberapa sarana penunjang sirkuit pun kurang memadai. Bahkan Pak SBY harus menumpang motor pengawal untuk bisa masuk ke sirkuit karena akses ke sana tertutup akibat tidak sanggup menampung besarnya arus penonton.

Di pinggir lintasan
Di pinggir lintasan

Coba bandingkan dengan Malaysia, sirkuit Sepang selesai dibangun sekitar tahun 1997 dan berhasil menjadi penyelenggara balap F1 pada tahun 1999. Detailnya sih saya kurang paham, tapi ketika ke sana menonton balapan itu, saya merasa pengelola sirkuit dan pemerintah Malaysia bekerja dengan baik. Saya sama sekali nggak merasa kesulitan untuk sampai ke Sepang.

Mungkin gagalnya sirkuit Sentul jadi penyelenggara balap F1 bukan karena salah pemerintah. Toh sirkuit itu dikelola oleh swasta. Tapi, lagi-lagi ini murni pendapat saya sebagai rakyat biasa, kalau kita mau menyelenggarakan event internasional, campur tangan pemerintah tetap harus ada. Lihat aja Singapura, negara yang nggak punya sirkuit itu bisa menjadi salah satu negara di Asia yang menyelenggarakan Formula 1. Rasanya mustahil kalau pemerintahnya nggak ikut campur tangan.

 

Lupain deh soal F1, sekarang ini ada contoh proyek besar lain yang gagal, baca aja berita soal proyek Hambalang. Tragis

Balik lagi soal memindahkan ibu kota, saya melihat ini seperti masalah poligami. Poligami di jaman nabi itu dilakukan dengan tujuan yang baik dan dilaksanakan dengan niat yang mulia. Sekarang? Banyak yang beristri lebih dari satu cuma karena nafsu. Tapi kemasannya selalu berusaha menyamai jaman nabi.

Ide memindahkan ibu kota muncul karena kondisi Jakarta yang semakin parah. Tapi gak tau kenapa, ide ini selalu mentah. Kemudian sekarang ide ini ramai lagi dibahas setelah Presiden SBY terpukau dengan cantiknya Astana, ibu kota Kazakhstan. Menurut saya, ini seperti praktek poligami yang salah itu. Ibaratnya ingin menikah lagi cuma karena istri pertama sudah tidak menarik, bukan karena kondisi yang memang memaksa untuk punya istri lagi.

Kalau niat memindahkan ibu kota karena kondisi Jakarta yang semakin parah, seharusnya tanpa kunjungan ke Astana pun proyek ini sudah berjalan sejak lama. Ya kurang lebih seperti proyek Hambalang lah. Karena prihatin dengan prestasi olahraga Indonesia, maka dibuatlah Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olah Raga Nasional di Hambalang.

Lalu kenapa saya bilang memindahkan ibu kota ini mirip praktek poligami yang salah? Ya karena saya khawatir, niat pindahan ini diboncengi oknum-oknum yang mau merusak niat baik pindahan dengan nafsu memperkaya diri sendiri. Poligami, kalau saya nggak salah, dilakukan karena situasi di masa nabi memang sangat sulit. Sehingga jalan yang harus ditempuh adalah dengan menikahi janda-janda yang hidupnya sulit (kalau mau lebih jelas, tanyakan ke ahli agama aja. Saya cuma paham sedikit.), sementara manusia sekarang punya istri lebih dari satu hanya karena mereka mampu berbuat seperti itu.

Nah, jangan sampai niat memindahkan ibu kota ini cuma gara-gara ada beberapa orang yang melihat kesempatan bisnis dan berusaha mengeruk keuntungan dengan dalih kepentingan negara. Contohnya ya seperti proyek Hambalang itu. Sedih kan?

Tapi yang paling penting, seandainya pemerintah jadi memindahkan ibu kota, seluruh rakyat harus membantu dengan doa agar semua rencana sudah disusun dengan baik dan pelaksanaannya pun dilakukan secara presisi dan bertanggung jawab sehingga hasil akhirnya memuaskan semua pihak. Jangan sampai malu seperti soal Formula 1. Parah banget kan kalau tiba-tiba Singapura lebih dulu sukses memindahkan ibu kotanya ke salah satu pulau di NKRI? Iya, ini sarkasme (lagi). Mari kita berdoa saja untuk kebaikan negeri ini dengan kreativitas masing-masing, mulai!

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s