Cara Fotografer Berpakaian

Pernah bertemu dengan orang yang berpakaian tidak pantas dalam suatu pekerjaan hanya karena merasa dirinya seniman atau artis? Atau malah kita sendiri pelakunya? Cerita seperti ini banyak juga dijumpai di lingkungan fotografer. Atas nama ‘seniman’, seorang fotografer menggunakan T-shirts dan jins belel saat melakukan pemotretan di acara pernikahan. Atau mengenakan kemeja lengan panjang yang lusuh, celana yang panjangnya tanggung serta sepatu olahraga di suatu sesi pemotretan komersial yang bernilai puluhan juta. Alasannya? Semata-mata karena rasa ”keartisan” yang sangat tinggi.

Iya sih, sah-sah saja kita berbusana yang bisa menunjukkan eksistensi kita sebagai seniman dalam suatu sesi foto. Tapi jangan lupa, sesi foto itu bukan tentang kita lho. Sebuah sesi foto itu tentang bagaimana kita mengeksekusi keinginan klien, sekaligus memberikan pelayanan yang baik di dalam prosesnya. Memang betul bahwa pada akhirnya hasil foto kita yang akan menjadi ukuran berhasil atau tidaknya sebuah proyek. Tapi sebagus apapun hasil karya kita, kalau klien merasa tidak nyaman selama proses pembuatannya, bisa jadi mereka akan mencari fotografer lain untuk proyek berikutnya. Ya iyalah, fotografer andal kan jumlahnya ribuan. Para klien bisa memilih sesuka hati.

Lalu pakaian seperti apa yang seharusnya dipakai seorang fotografer? Kalau menurut saya, kata kuncinya adalah ’nyaman’. Nyaman saat kita gunakan bekerja, dan nyaman juga di mata rekan kerja serta para klien. Selain nyaman, jangan lupa bahwa kita berpakaian bukan untuk menonjolkan diri sendiri tapi untuk menghormati orang lain yang ada di lingkungan kerja kita.

Kesimpulannya, gunakan common sense untuk urusan berpakaian ini. Saya terpaksa menggunakan kata ‘common sense’ karena nggak ngerti padanan katanya apa dalam bahasa Indonesia. Definisi common sense: the ability to think and behave in a reasonable way and to make good decisions.

Jadi kesimpulannya (lagi), seorang fotografer nggak cuma perlu menguasai teknik fotografi tapi juga perlu belajar membawa diri dengan baik karena nyatanya kita ini bukan hanya seniman tapi juga pemberi jasa atas keahlian yang kita punya untuk orang yang membutuhkan. Itu artinya kita nggak cuma dihargai atas kemahiran kita dalam berkarya tapi juga cara kita berinteraksi dengan orang lain. Toh ‘berinteraksi’ itu juga sebuah kesenian kan, ya? Seni bertahan hidup, tepatnya.

Selamat berbelanja pakaian.

Advertisements

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s