Memotret Itu Mudah. Kita Yang Bikin Susah

Susah karena gak mau belajar.

Belajar kan gak harus kursus.  Kursus pun gak harus yang mahal. Bertanya dan mencoba, itu inti dari belajar, tempat mah bisa di mana aja. Selama hanya sebagai peminat fotografi, semua bisa dibikin mudah.

Kalau cuma punya lensa makro, gak usah motret landscape. Kalau cuma punya lensa wide, gak perlu hunting foto binatang. Kalau cuma punya lensa kit, bersenang-senang lah. Karena lensa kit adalah lensa yang aduhai untuk pemula. Dengan lensa ini kita bisa belajar memanfaatkan alat yang ada dengan maksimal. Belajar menggunakan logika, bukan nafsu.

lompat

Kalau sudah merasa mampu dan mau mencoba jadi fotografer bayaran, ya mudah juga. Oh iya, saya sengaja pakai istilah fotografer bayaran dan bukan fotografer profesional. Karena buat saya, istilah fotografer profesional itu untuk orang yang 100% mencari nafkah dari fotografi. Kata ‘profesional’ di atas bukan merujuk kepada keahlian, tapi merujuk terhadap status.

Bisa saja Anda yang berprofesi sebagai dokter, bidan, penulis, tentara dan profesi lainnya menjadi fotografer dikala senggang. Ini yang saya sebut sebagai fotografer bayaran. Artinya, dia dibayar untuk setiap karya fotonya tanpa harus meninggalkan profesi utamanya.

Nah, kalau memang berminat, boleh dicoba beberapa langkah berikut untuk jadi fotografer bayaran. Pertama, pasti harus punya jaringan pertemanan untuk menjual keahlian fotografinya. Lalu harus tahu cara “menjual” diri. Ini tahap yang sama untuk hampir semua profesi di dunia.

Untuk bisa berpromosi di dunia fotografi tentu harus punya karya foto sebanyak-banyaknya. Bikin portfolio yang sesuai dengan market yang akan kita tuju.

Membuat portfolio juga mudah. Misal mau menjadi fotografer untuk acara pernikahan, coba cari saudara atau teman yang mau nikah, tawarin jasa kita. Kalau dia sudah pakai jasa fotografer lain, coba minta ijin untuk motret bareng. Jelaskan maksud dan tujuan kita dengan baik, biasanya boleh kok ikut motret selama tidak mengganggu kerja fotografernya. Atau kalau ada modal lebih, sewa kostum dan cari model untuk bergaya jadi pengantin. Mudah, kan?

Portfolio bisa dalam berbagai bentuk. Ada portfolio offline seperti album, photobook, CD dan bahkan dalam bentuk kalender. Lalu ada juga portfolio online, ini lebih banyak lagi medianya. Kita bisa manfaatkan website, photoblog, instagram dan media sosial lainnya.

Pokoknya, fotografi sekarang ini hal yang mudah. Mau motret, sudah ada banyak ragam kamera. Mau dijadikan profesi, pasarnya sudah terbuka luas. Kendala pasti akan ada ketika kita belajar memotret, tapi solusi juga pasti berlimpah kalau kita mau mencari.

Yang penting kita nikmati prosesnya, susah atau mudah kan hanya soal sudut pandang. Para fotografer senior yang hasil fotonya bagus-bagus itu juga dulunya pasti ngelewati proses yang panjang. Kalau kita mau punya karya foto sebagus mereka, tentu harus mau juga ngejalani prosesnya.

Jangan jadi generasi instan, yang tiba-tiba mau berhasil tanpa melewati proses belajar. Pasti gagal beneran deh.

They only see the glory, but never the pain behind the story

– anonymous

 

3 thoughts on “Memotret Itu Mudah. Kita Yang Bikin Susah

  1. Yes, Setuju!
    dan lagi, orang zaman sekarang itu selalu beranggapan, yang namanya motret yaa pake DSLR. selain itu yaa cuma iseng-iseng aja. Jadi, mindset nya itu udah stuck disana.. Mending kalo mampu beli DSLR, kalo nggk? yaa di kubur deh tuh harapan jadi fotografer. emang, yang bikin susah justru diri kita sendiri ^ ^

    Tukangecuprus:
    Tapi kok masih jomblo, Rie? *eh*

    Like

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s