Negara Setengah Matang

Tadinya saya mau melanjutkan tulisan tentang ASEAN Blogger, tapi tiba-tiba teringat film Habibie & Ainun. Kemudian jadi mikir dan ingin ngecuprus tentang Indonesia. Sosok Pak Habibie jelas sangat penting di negara ini, tapi menurut saya, beliau berada di masa yang tidak tepat. Sekarang saja, di tahun 2013 ini, Indonesia masih kerepotan mengurusi e-KTP. Kebayang bagaimana bobroknya manajemen negara ini saat Pak Habibie, melalui IPTN (sekarang PT. DI), menghasilkan pesawat CN 235 dan kemudian N 250.

Kreasinya cerdas, produknya berhasil terbang, tapi entah manajemennya. Saya sebagai warga biasa cuma bisa melihat hasil akhir, yaitu penggunaan dan penjualan pesawat tersebut. Indonesia sebetulnya sangat perlu dan cocok menggunakan pesawat sejenis CN235 dan N250. Karakternya yang kecil dan ringan sangat pas untuk melayani rute kota-kota di kepulauan Indonesia. Jangan melihat pulau Jawa, coba tengok repotnya orang dari Medan jika hendak ke Padang atau Lampung, mereka harus transit ke Jakarta dulu.

Selain untuk pesawat penumpang, kedua jenis pesawat itu sebetulnya bisa juga dijadikan pesawat cargo. Atau digunakan untuk militer dalam negeri. Tapi nyatanya? Sedikit sekali pemanfaatan pesawat-pesawat tersebut. Urusan pemasaran bukan bagiannya Pak Habibie, itu urusan manajemen. Kalau mau diperluas lagi, itu urusan pemerintah Indonesia. Seandainya dulu didukung penuh, kemungkinan bukan cuma keberhasilan semu yang didapat oleh Indonesia. Mungkin industri pariwisata juga tertolong karena turis lebih mudah menjelajahi Indonesia atau harga kebutuhan pokok di kota Enarotali tidak terlalu jauh selisihnya dengan kota di Jawa karena ada maskapai kecil yang melayani rute antar kota di seluruh Indonesia menggunakan pesawat ini.

Iya, banyak maskapai kecil yang menggunakan Twin Otter atau Cessna untuk penerbangan perintis, tapi itu produk luar negeri. Seandainya IPTN dulu didukung penuh, mungkin kita bakal punya pesawat murah. Mungkin. Saya sendiri dulu termasuk yang pesimis dengan proyek IPTN. Bukan tidak yakin dengan produknya, tapi saya pesimis dengan kelanjutan proyek tersebut. Ini gara-gara saat kuliah dulu saya sempat jadi liaison officer untuk tim dari Jakarta yang datang mengikuti Down Under Airshow di Geelong, Melbourne, Australia. Saat itu Pak Ilham Habibie sedang duduk presentasi di depan media asing, sementara stafnya yang duduk di sebelah beliau asyik memotret kawan-kawannya yang duduk di kursi audience. Presentasi Pak Ilham hebat, tapi anggota rombongannya membuat malu. Etikanya di mana? Itu namanya goblok atau gak tahu diri? Apa mereka gak ngerti pentingnya presentasi? Apalagi membawa nama negara. Atau lebih lengkapnya, membawa nama negara yang sedang berusaha memasarkan pesawat kebanggaan di depan masyarakat internasional. Saat itu juga saya kecewa, tapi cuma bisa bengong.

Saya bengong karena orang yang etikanya minim bisa menjadi tim yang ikut ke luar negeri mewakili produk kebanggaan Indonesia. Entahlah, mungkin benar kata sebagian orang bahwa negara ini salah urus. Saya cuma bisa menyebut negara ini sebagai negara setengah matang. Seperti telur, ada yang suka dengan telur setengah matang, ada yang tidak suka. Tapi ketika tidak ada pilihan lain, ya semua terpaksa memakan telur itu. Bagi yang tidak suka telur setengah matang, yang bisa dilakukan hanya menambahi garam atau merica supaya rasanya menjadi sesuai selera.

Sekarang entah bagaimana kelanjutan proyek pesawat itu, mungkin sudah banyak yang lupa. Ya wajar saja kalau banyak yang tidak lagi membahas kejadian lama, di sini sepertinya memang sudah terbiasa dengan ‘siang bahas Fathanah, malam bahas Fatin’.

Tapi kalau tadi saya menulis tentang pesimistis dan ketidak yakinan tentang kinerja sebagian orang Indonesia, bukan berarti saya menyerah berharap untuk kemajuan negara ini. Walau belum ideal, negara kita tetap lebih baik dari negara lain. Minimal di sini kita bisa menikmati lebih banyak kebebasan dibanding negara sekitar. Kalau saya warga Malaysia atau Myanmar dan menulis seperti ini di blog, kemungkinan besar besok siang sudah harus berurusan dengan pihak berwajib. Mungkin.

Kalau dibandingkan dengan era Soeharto, sekarang agak lumayan. Masih banyak sih korupsi, antrian bahan bakar dan persoalan-persoalan klasik negara setengah matang, tapi kita harus percaya diri bahwa Indonesia bergerak maju. Paling tidak, saya sendiri sudah sedikit bergerak maju dengan mulai menggunakan transportasi umum bersama ribuan warga Jabodetabek lainnya. Ya walaupun tidak mengurangi kemacetan di jalan raya, minimal saya tidak lagi menyumbang umpatan di sosial media karena terjebak macet.Β  Ini yang saya maksud dengan menambahi garam dan merica pada telur setengah matang agar rasanya lebih pas di lidah. Daripada mengeluh, saya memilih bertindak. Walaupun kecil pengaruhnya, tapi paling tidak saya bisa lebih menikmati negara saya. Semoga.

Advertisements

6 thoughts on “Negara Setengah Matang

  1. Ragil,

    Tulisannya makin matang nih! Isinya sedap, olahannya lezat πŸ™‚ Apakabarnyaaa?

    Tukangecuprus:
    Mungkin karena sering nyelinap ke blog Mbak Dy, jadinya tulisanku agak mendingan πŸ˜€

    Like

  2. kalo ngomongin politik di china, walo ngobrol sante di cafe … bisa pulang tinggal nama.

    gw pernah mancing2 temen gw tentang politik waktu hangout, mereka bisik2 sambil liat kanan kiri takut diciduk.

    Like

  3. Seharusnya sekarang warga Sumenep yg naik pesawat dari Jakarta bisa langsung lanjut pesawat CN 235 atau N 250 dari Juanda ke Bandara Trunojoyo di Sumenep, perjalanan hampir 6 jam lewat darat bisa dipangkas jadi sekitar 30 menit saja. Seandainya saja…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s