ASEAN Blogger, Membuka Mata. Semoga.

Saya senang sekali waktu ditawari Kak Injul untuk ikut ke acara ASEAN Blogger Festival di Solo. Membayangkan bakal bertemu kawan baru, baik dari dalam dan luar negeri, pasti seru dan cihuy banget. Untuk orang seperti saya, yang susah ngobrol dengan orang baru, acara seperti itu memang sangat menantang. Iya, saya memang lancar kalau menulis, tapi untuk berbicara dengan kawan baru (bahkan teman lama sekalipun) saya sangat kesulitan. Makanya si De, seorang kawan dari Blogfam, pernah bilang bahwa jari saya lebih binal dibanding mulut. Saya lupa ucapannya seperti apa, tapi kira-kira seperti itu maksudnya.

Pagelaran ASEAN, apapun bentuknya, sudah seharusnya memberi manfaat bagi pesertanya. Gak usah ngomongin isi acaranya deh, bisa bertemu dengan warga ASEAN aja seharusnya sudah merupakan keuntungan bagi kita. Bisa belajar (sedikit) bahasa asing dan bertukar cerita dengan peserta luar Indonesia itu sudah sebuah keuntungan tersendiri. Makanya saya bersemangat ketika bisa ikut ke Solo pada tanggal 8-12 Mei.

Semangat ASEAN ini, bagi saya selalu istimewa. Karena sewaktu sekolah dulu, kami sering mengalami kejadian-kejadian seru dari penduduk lokal yang kurang wawasan. Di Canberra, saya dan seorang kawan dari Thailand pernah diludahi di bis oleh seorang anak SMA yang duduk bergerombol. Kami cuma bisa membentak, karena kita bisa masuk penjara kalau memukul duluan. Saat di Melbourne, gak keitung lah perlakuan buruk orang lokal sana. Tapi banyak juga pengalaman yang seru dengan warga Melbourne. Ya biasa, namanya manusia kan selalu ada yang baik dan gak sedikit juga yang jahat dan kurang piknik. Di Australia, orang yang kurang piknik dan berotak minimalis ini dulu disebut dengan ‘Yobbo’. Kalau di Amerika mungkin setara dengan ‘Redneck’. Mereka pikir negara mereka itu udah yang paling hebat dan semua pendatang adalah warga kelas 2 yang gak perlu dihormati.

Untungnya, kami semua sudah diberitahu soal yobbo dan kami juga diperingati untuk tidak menggunakan kekerasan. Karena di Australia sana, siapapun yang pertama kali menyerang menggunakan fisik, akan dianggap salah oleh pengadilan. Tidak peduli masalah awalnya apa. Kecuali kalau ada maling yang masuk rumah (wilayah pribadi), kalau perlu kita bunuh pun boleh. Karena nanti kita bisa beralasan sebagai tindakan membela diri. Tapi kalau kejadiannya di ruang publik, sebaiknya jangan menggunakan kekerasan kecuali diserang duluan.

Tapi itu semua terjadi di pertengahan 90-an, sekarang mungkin habitat yobbo sudah makin berkurang. Kalaupun masih ada, cuekin ajalah. Toh di negara kita juga masih banyak yang kayak gitu kok. Jangankan dengan orang asing, dengan bangsa sendiri aja masih banyak yang melecehkan, susah akur dan bahkan ada yang sampai pada tahap kekerasan. Mulai dari kasus yang serius seperti soal Ahmadiyah, sampai soal sepele seperti, misalnya, nyinyiran antar blogger di timeline.

Ya mungkin banyak warga Indonesia yang telat makan ilmu pengetahuan dan jarang piknik, semoga dengan kemudahan mengakses informasi dan gampangnya kita berkenalan dengan orang dari banyak pulau di Indonesia ini, kita bisa berbagi wawasan dan menyebarkan semangat ‘ingin maju bersama’ ke kawan-kawan yang masih bahagia dan asyik sendiri di dunianya yang sempit.

Potensi kita untuk maju sangat besar, jangan pada sikut-sikutan deh. Apalagi kalau yang sikut-sikutan itu adalah orang yang punya kawan segambreng dan berasa ngetop, bahaya. Mending kita bergerak maju, daripada cuma menyikut kanan dan kiri. Semoga mata kita, dan terutama saya, terbuka dan sadar bahwa negara ini belum hebat, negara hebat cuma ada kalau warganya maju dan berpikiran terbuka. Gak perlu gerakan yang bombastis untuk membuat nama Indonesia menjadi baik. Membuang sampah pada tempatnya sudah cukup kok. Buktinya, banyak pelancong yang terkesan dengan kebersihan (sebagian besar) wilayah Singapura kan? Gampng tho untuk maju? Yuk kita berbenah bersama-sama.

Advertisements

7 thoughts on “ASEAN Blogger, Membuka Mata. Semoga.

  1. Gak perlu gerakan yang bombastis untuk membuat nama Indonesia menjadi baik. Membuang sampah pada tempatnya sudah cukup kok. -> Setuju *sambil jalan ke tempat sampah*.
    Ini komentar dari orang yang bahagia di dunia sempitnya sendiri 😀

    tukangecuprus:
    Aku pun bahagia di dunia sempitku, tapi lebih bahagia kalau diajak jalan-jalan gratisan 😀

    Like

  2. Moral cerita: sering-seringlah piknik dan bergaul dengan berbagai macam orang. Bener bangeet!!! *lanjut duduk manis nunggu tulisan soal apa sebenarnya mangsud acara ASEAN blogger ini (serius nanya)

    Like

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s