Sambelisme!

Ternyata, sambal itu bukan hanya enak dicocol sebagai teman lauk pauk. Di balik merahnya sambal ada cerita menarik tentang kehidupan. Suatu sore di Surabaya, saya mendapatkan kisah sambal yang bagus untuk diceritakan ulang.

Sambal, atau lebih enak kalau dilafalkan dengan ‘sambel’, punya makna yang bagus jika diulas. Percakapan sore itu dimulai ketika lawan bicara saya bilang, kamu bisa hidup nyaman kalau sudah bisa bikin sambel yang enak dan ngerti kenapa sambel itu bisa enak. Kemudian obrolan menjadi serius tapi tetap dalam suasana yang santai. Saya mau coba tuliskan obrolan yang panjang itu di sini. Semoga enak dibaca, seenak pedasnya sambel mangga…slurrps.

Untuk bisa menjadi sambel, dia gak bisa hanya menggunakan cabe. Mungkin bisa, tapi rasanya kurang sedap. Pasti hanya sekedar pedas. Banyak orang mencampurkan bawang putih, bawang merah, tomat, garam, terasi dan bahkan minyak goreng. Semua tergantung sambel apa yang hendak dibuat. Kemudian semua bahan itu diulek sampai lembut. Racikan semua bahan tadi harus tepat supaya sambelnya terasa enak. Semua harus sesuai porsi. Sama dengan kehidupan kita, semua harus bisa menempatkan diri sesuai kapasitasnya.

Mungkin lebih enak kalau saya coba contohkan dalam kejadian nyata. Karena saya fotografer, saya akan coba contohkan dalam sebuah kegiatan pemotretan. Dalam sebuah sesi foto yang serius, banyak orang yang terlibat. Masing-masing punya tugas tersendiri, ada fotografer, ada perias, ada yang menjadi model, ada yang mengurusi wardrobe, mengatur tata lampu dan sebagainya. Kalau dalam sesi foto komersial, ada juga orang yang kelihatannya tidak melakukan apa-apa, tapi dia ada di lokasi pemotretan. Biasanya sih yang kayak gini ini adalah pihak client. Kalau dikaitkan dengan soal sambel tadi, mungkin ‘client’ ini adalah orang yang duduk di meja makan menunggu sambelnya jadi.

Nah, kalau kita umpamakan orang-orang tersebut di atas sebagai bumbu, maka masing-masing harus ngerti tugas dan kapasitasnya supaya bisa menghasilkan sebuah foto yang sesuai dengan harapan. Jangan sampai si perias mendadak mau jadi fotografer. Atau si fotografer kepingin nyoba jadi model, pasti nanti jadinya aneh. Apalagi kalau fotografernya adalah saya, sementara saat itu adalah sesi pemotretan pakaian renang. Beneran deh, pasti aneh.

Kalau membuat sambel kan harus gitu juga. Kita harus tau, kalau mau asin ya pakai garam. Bukan pakai terasi. Kita juga harus tau selera si calon penikmat sambel ini gimana? Dia suka sambel yang pedes atau nggak? Dia maunya sambel terasi, sambel bawang, atau malah cuma sambel kecap? Sama seperti sesi pemotretan, kita harus ngerti maunya client. Jangan memaksakan maunya kita. Intinya sih kerja sama.

Lalu dalam pembuatan sambel tadi, gak semua bahan bertakaran sama. Nanti malah aneh rasanya. Dalam hidup pun begitu. Kadang kita punya andil besar dalam suatu peristiwa, tapi gak jarang juga porsi kita hanya sedikit. Lalu apa kita harus minder kalau andilnya kecil? Atau malah gak berpartisipasi maksimal karena ngerasa perannya kecil? Ya balik lagi ke soal sambel, porsi bawang mungkin sangat kecil dan nyaris tak terlihat, tapi ketika harganya melonjak, banyak orang jadi sibuk mencari penggantinya.

Sambel juga akan lain hasilnya kalau diolah di tempat yang berbeda. Coba bandingkan sambel hasil ulekan dengan sambel yang dibuat menggunakan blender, hasilnya beda jauh. Tapi ya gak masalah, karena masing-masing punya kegunaan yang berbeda. Sama seperti hidup, kata lawan bicara saya, kita juga harus pintar menempatkan diri supaya nyaman dan diterima dalam pergaulan.

Baiklah, ternyata membuat sambel pun bisa jadi menarik kalau dihubungkan dengan hidup sehari-hari. Mungkin berlebihan, tapi poin yang saya tangkap dari obrolan sore itu adalah, ternyata belajar jadi manusia yang baik itu bisa didapat dari mana saja. Bahkan dari sambel sekalipun. Pernah gagal bikin sambel? Ulangin aja. Dengan melakukan perbaikan tentunya. Jangan lupa tanya ke orang yang pandai bikin sambel, pasti kita akan banyak tertolong. Pernah gagal dalam hidup? Bangkit dan berjuang lagi, pelajari kesalahan, benahi dan lakukan lagi semuanya dengan lebih cermat dan lebih baik. Minta pertolongan ke orang yang kita anggap lebih banyak pengalaman juga gak salah. Yang penting tetap berusaha dan gak nyerah.

Jadi, sudah pada nemu “sambel” masing-masing belum? Saya sudah. Rasanya nikmat sangat 😉

Advertisements

2 thoughts on “Sambelisme!

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s