Sevelisme!

Sewaktu berlibur pulang ke Jakarta, saya senang melihat perubahan fisik kota itu. Kurang lebih 1 tahun saya meninggalkan Jakarta, cukup banyak berubah wujudnya ibukota Indonesia ini.

Saya sempat merasakan jalan layang yang baru diresmikan Pak Jokowi, dari sana saya meluncur ke ruas Mampang – Warung Buncit, banyak juga perubahannya. Yang sangat mencolok tentu bertambahnya gerai Sevel. Nama resminya Seven Eleven, cuma biar gampang nulisnya ya sebut Sevel aja.

Saya terkejut dengan banyaknya Sevel di ruas jalan ini, dan semakin melongo karena toko durian di salah satu sudut Warung Buncit hilang tergantikan dengan gerai tongkrongan-super-ramai-saat-akhir-pekan itu. Sebel sih. Sebel karena gak ada ada lagi tempat beli es krim durian yang rasanya pas di lidah saya. Mungkin ada di tempat lain, tapi saya harus keliling Jakarta lagi untuk menemukan tempat itu. ‘Keliling Jakarta’ itu sungguh gak enak dilakukan kalau sekedar untuk mencari es krim durian. Sumpah deh.

Bagi yang rajin melintasi jalanan ibukota pasti tau macetnya kota ini, sintingnya kelakuan sebagian pengguna jalan dan bisingnya suara klakson. Iya, fisik kotanya memang berubah. Kelakuan sebagian besar penghuninya tidak.

Sempat terpikir di benak, kapan kelakuan sebagian besar pengguna jalanan DKI bisa semanis manusia-manusia yang sedang ngobrol di Sevel itu? Bukannya saya mengistimewakan Sevelist, sama sekali tidak. Teman-teman yang rajin nongkrong di angkringan juga manis-manis kok, cuma entah kenapa perhatian saya seperti tercerabut kalau melihat para Sevelist itu.

Mungkin karena mereka pede banget, ya? Iya, pede karena cuma beli slurpee tapi bisa nongkrong lama di bawah terangnya lampu Sevel. Nyaris di pinggir jalan pula. Teman-teman di angkringan juga banyak kok yang cuma beli kopi segelas tapi nongkrong sampai pantatnya pegel, hanya saja situasi angkringan biasanya tidak seterang benderang Sevel. Iya, kan?

Setelah kembali ke Bengkulu, saya tetap berharap semoga sebagian pengguna jalanan DKI yang buas bisa berubah menjadi manis seperti Sevelist. Pasti suasana jalan bakal lebih nyaman.

Macet ya tetap aja macet, tapi pasti bakal lebih enak kalau tidak saling serobot, tidak saling klakson dan yang lebih parah lagi, saling umpat. Bahkan gak jarang juga saling tukar pukulan 😦

Gak gampang sih, tapi selalu berharap perubahan yang positif kan gak rugi ya? Mengubah karakter untuk menjadi lebih baik itu perlu proses yang panjang. Kadang malah perlu kejadian yang huhabruhaha bagi seseorang untuk mau berubah. *ngaca*

Kalaupun ternyata banyak manusia yang susah berubah kelakuannya, saya yang berniat berubah. Siapa tau kalau saya menjadi orang yang lebih baik, pandangan saya terhadap lingkungan sekitar juga akan menjadi positif. Semoga itu bisa memberi efek yang baik pula bagi sekitar saya. Pulang ke Jakarta sebentar memang bisa menumbuhkan semangat baru. Apalagi selama di sana menemukan cinta yang baru. Ihik.

Selama numpang tinggal di Bengkulu, saya berharap bisa mengubah diri menjadi manusia yang lebih baik. Banyak contoh bagus yang bisa saya jadikan bahan untuk berubah, sehingga saat saya pulang ke Jakarta, saya menjadi lebih dewasa dan punya wawasan yang lebih bagus dibanding tahun yang lalu. Aamiin.

Ini tadi sebenernya bahas apa, tho? Dari sevel kok jadi soal mengubah karakter.

Btw, berubah itu mudah kok. Asal niat dan serius dijalanin aja. Nah ngejalaninnya ini yang susah, haha! Mbulet ae!

Etapi beneran deh, berubah itu bisa banget dilakuin. Karena hanya Unyil yang gak bisa berubah. UNYIL? Tua banget ya gue 😐

Advertisements

6 thoughts on “Sevelisme!

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s