Seimbang

Beberapa saat yang lalu tetiba kawan saya nyamber nomention di twiter. Awalnya nanya kabar, berakhir dengan pertanyaan yang intinya, gimana cara ngatur emosi supaya gak “gila”? Saya bukan motivator, apalagi psikolog, yang bisa kasih jawaban untuk pertanyaan macam itu. Saya cuma punya jalan hidup yang bisa diceritakan, kalau berguna ya syukur. Kalau nggak, ya anggap aja cerita sebelum tidur.

Jadi tadi saya jawab, semuanya simpel asal bisa balance. Cuma gitu aja jawaban saya, ya kan gak mungkin kalau harus jawab panjang lebar di twitter. Pakai metode ‘no mention’ pula 😐

Jadi larilah saya ke sini, lumayan tho? Ada bahan ngecuprus 😉

Balance, atau keseimbangan, kalau menurut saya sih mudah asalkan kita bisa menghilangkan ego.

Prakteknya bisa bermacam-macam, untuk soal relationship misalnya, saat kita diminta mengikuti aturan-aturan dari pasangan, ya lepaskan ego. Turuti yang dia mau. Nanti pada saatnya, kita minta gantian. Contoh, kalau pasangan minta kita untuk melupakan masa lalu demi menjalani yang ada sekarang, ya coba dituruti. Toh tujuannya baik kok. Tapi kita pun harus mengingatkan dia, lepaskan juga trauma-trauma masa lalunya. Jadinya seimbangkan? Gampang sih, ngejalaninnya yang susah. *ngikik*

Lalu pada saat kita mengharapkan support, ya terima kapan saja usaha orang-orang yang hendak memberikan dukungan itu. Jangan kita yang mengatur “jadwal”. Wajarkan? Toh kita gak tau saat itu orang tersebut sedang berada di level emosi yang mana. Saat orang sedang semangat memberikan dukungan yang tulus, jangan diredam. Apalagi ditolak! Penerimaan mereka atas penolakan itu bisa bermacam-macam. Jadi responnya pun bisa bermacam-macam. Lagi-lagi yang dibutuhkan ya keseimbangan. Terima aja, toh nanti bisa diberi pengertian bahwa kita hanya memerlukan dukungan sampai sejauh mana.

Tapi kalau semuanya gagal, dalam artian kita gak bisa memberikan pengertian kepada orang lain tentang ‘balance’, ya kita sendiri yang harus menyeimbangkan diri. Kalau saya sih, caranya ya dengan introspeksi. Mungkin kita sendiri yang perlu melakukan perubahan. Toh semua hal dalam hidup kita ini ya kita sendiri yang kontrol kan? Jadi kalau mengharapkan perubahan di luar, ya ubah dulu diri sendiri. Agak basi sih, karena pasti sudah banyak orang yang bilang seperti itu. Ya dipikir lagi aja, kalau memang banyak orang mengucapkan kalimat itu, bisa jadi karena memang begitu lah adanya 😀

Oh iya, soal pertanyaan “Gimana cara ngatur emosi supaya gak gila?”, kalau menurut saya, pada saat kita masih bisa melempar pertanyaan seperti itu, itu berarti kita secara gak sadar sedang mengatur emosi. ‘Bertanya’ kan sebetulnya sebuah ‘cara’ untuk mengistirahatkan otak dan hati. Karena pada saat kita ‘bertanya’, secara gak sadar kita sedang mengurangi beban dan berusaha membaginya dengan orang yang kita tanya. Jadi, elo belum gila kalau masih mampu bertanya.

Isi postingannya ngambang ya? Ya namanya juga ngecuprus, kalau tulisannya detail penuh teori dan kutipan-kutipan dari tokoh terkenal, mungkin namanya thesis 😐

Advertisements

One thought on “Seimbang

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s