Jadi Apa Salah Gaga?

Gak gitu peduli juga sebetulnya sama konsernya, bahkan sekarang pun gak minat nyari lagu-lagunya. Baca beritanya pun hanya setengah-setengah. Yang saya tangkap, penolakan konser itu dilakukan oleh beberapa ormas dan kemudian diamini oleh pihak kepolisian. Alasan penolakan karena si Gaga ini penganut aliran apalah, disebut juga sebagai pemuja entah apalah dan suka memakai kostum seperti apalah.  Benar atau tidak, saya juga gak minat untuk mencari tau.

Kalaupun berita itu benar, lalu apa masalahnya? Apa dia menyebarkan kepercayaannya lewat konser-konser yang dia gelar? Apa sudah ada penonton yang converted dan menjadi seperti dia setelah pulang dari nonton konsernya? Kalau iya, lalu siapa yang berhak melarang konsernya? Kenapa ada negara yang tetap mengijinkan dia konser dan ada negara lain yang melarang?

Banyak bener pertanyaan saya ya? 😀

Tapi memang ini pertanyaan saya sejak dulu. Setiap ada penolakan terhadap bakat seni seseorang hanya karena kepribadiannya dianggap aneh, saya selalu bertanya, salah dia apa?

Pernah suatu kali seorang kawan cerita, dia jadi males baca buku karya seorang novelis Indonesia karena si novelis tersebut sombong dan diduga pernah menelantarkan keluarganya. Ya wajar tho kalau saya bertanya, yang disukai itu karya tulisnya atau kepribadian si penulis? Yang dibeli itu bukunya atau orangnya?

Pertanyaan saya tentang batalnya konser si Gaga kurang lebih ya seperti itu. Saat orang membeli tiket konsernya, yang dibeli itu show-nya atau memang orang mau melihat kehidupan sehari-hari si Gaga lewat panggung itu? Tapi khusus untuk konser Gaga ini, konon ada soal pembagian “jatah” yang tidak merata. Entah benar atau tidak. Atau mungkin memang negara kita ini sangat gemar “melindungi” warganya ya. Tengok aja beberapa tahun belakangan, entah sudah berapa film, buku dan karya seni lainnya dilarang beredar karena alasan dapat-memberi-dampak-buruk-untuk-masyarakat.

Eh setelah nulis ini, saya jadi bertanya-tanya lagi *teutep ya nanya*, itu generasi yang suka nonton tayangan Si Unyil (yang konon kandungan ceritanya sangat mendidik) di TVRI tahun 80-an, ada berapa banyak yang jadi koruptor, penjilat dan suka sewenang-wenang saat punya jabatan penting? Entahlah.

Advertisements

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s