Penunggu

Aku senang di jalanan ini. Karena semua mata yang memandangku, selalu disertai dengan tatapan hormat. Ada juga yang iri. Iri dengan motor yang aku naiki. Tak sedikit juga yang penasaran ingin mengalahkanku.

Dulu aku selalu memilih lawan. Walau banyak yang menantang, tak lantas gampang aku menerimanya. Malas aku menanggapi lawan yang belum terbukti kemampuannya.

Sekarang tak ada lagi yang melihatku, tapi masih kudengar bisik-bisik di sekitar. Mereka masih suka menyebut namaku, walau bukan lagi dengan rasa hormat. Tapi dengan kengerian.

Di tiang listrik ini aku meregang nyawa. Kini, sesekali aku yang mengajak pembalap liar itu. Mengajak mereka meregang nyawa. Untuk aku jadikan kawan.

Advertisements

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s