0736

Sebagian kawan saya menyebut apa yang saya kerjakan dengan kata ‘hijrah’, sebagian lagi menyebutnya dengan ‘mencari suasana baru’. Saya sih lebih suka menyebut ini dengan ‘melanjutkan hidup’. Itu saja.

Buat yang penasaran sama judul artikel ini, angka itu adalah kode area kota Bengkulu. Tempat saya melanjutkan hidup. Kalau saya berhasil hidup di sini, maka Bengkulu ini entah sudah kota ke berapa yang saya jadikan rumah. Dan setelah musibah di akhir tahun 2011 lalu, saya memang berniat untuk merantau. Sebetulnya disebut merantau pun nggak tepat, lha wong saya ndak punya kampung halaman, hehehe. Cukuplah cerita soal saya. Mari tengok kota Bengkulu.

Kotanya menyenangkan, dan selama 1 minggu di sini, menurut saya orang-orangnya pun ramah. Walaupun ibukota provinsi, Bengkulu memang kota yang sepi. Bayangkan, rumah yang saya tumpangi ini letaknya di pinggiran jalan besar di tengah kota. Kalau di Jakarta mungkin lokasinya seperti ruas jalan Mampang yang berdekatan dengan Jl. Gatot Subroto dan Rasuna Said, tapi kalau saya mau, jam 7 malam bisa gegoleran di tengah jalan. Ya mungkin kelindes-lindes motor dikit lah 😀

Saat saya sampai di sini, entah apa yang membuat saya langsung merasa betah sejak keluar dari Bandara Fatmawati Soekarno. Semoga saja itu sebuah pertanda bagus. Kalau kata orang, kesan pertama adalah segalanya. Nah, saya merasakan itu di sini. Padahal belum melihat seluruh kotanya.

Sekarang saya sudah 1 minggu di Bengkulu. Kotanya memang nyaman untuk ditinggali, sayang potensinya belum digali dengan maksimal. Kalau diibaratkan makanan, seperti kurang garam. Rasanya hambar. Saya bisa bayangkan seandainya kota ini berada di Australia, mungkin sudah ngetop seperti wilayah Gold Coast di Brisbane. Saya bukannya merendahkan pemerintah kita, tapi kalau dibandingkan dengan pemerintah negara-negara bagian di Australia sana, kita memang kalah jauh dalam soal pemasaran.

Sekedar contoh saja, di negara bagian Victoria yang beribukota Melbourne itu, mereka bisa mempromosikan longsoran tebing menjadi objek wisata yang tampak menarik. Cobalah main ke The Twelve Apostles, atau minimal googling lah, pasti bakal segera ngerti kenapa saya bilang mereka jago jualan.

Pantai di Bengkulu ini jauh lebih bagus dari beberapa pantai di Australia, di sini bisa menikmati sunset setiap saat asalkan cuaca cerah. Kebetulan rumah kontrakan saya dekat dengan pantai, jadi saya dan kawan-kawan baru saya bisa bolak-balik setiap hari ke pantai dan bersyukur bisa menikmati indahnya sentuhan Tuhan pada alam Bengkulu ini.

Malabro Beach, Bengkulu
Tapak Paderi Beach, Bengkulu

Saya yakin pemandangan seperti itu akan sangat mudah dijual ke luar negeri. Sama seperti kalau kita melempar ayam hidup ke mulut buaya, pasti langsung dilahap. Kalau ayamnya dibakar dan dibumbuin, lempar aja ke saya. Halah!

Konon di wilayah Bengkulu ini ada juga pantai yang bagus untuk lokasi surfing, lalu ada pulau yang memiliki terumbu karang yang indah. Sayangnya saya belum sempat ke sana sehingga belum bisa ngecuprus banyak tentang lokasi itu. Setidaknya sebagai blogger dan fotografer, itu yang sanggup saya lakukan untuk “menjual” kota Bengkulu ini. Semoga nanti ada kesempatan untuk keliling lebih jauh lagi, sementara ini, saya harus mikir gimana caranya bisa hidup layak di perantauan 😀

Cheers!

Advertisements

5 thoughts on “0736

  1. Nah, ketemu deh kita [lagi] di blogosphere.. :p

    Welkom tu bengkulu lah.. Kapan kita hunting (kuliner) lagi? Huehehehee..

    Ragil:
    Helooooow…wuah senangnyaa ketemu blogger Bengkulu yang doyan kuliner 😀 Hayuklah, setelah surabi semalam, kayaknya menu bebek perlu dicoba

    Like

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s