Fotografi Itu Bahasa.

Waktu pertama kali belajar fotografi, saya dikasih tau kalau foto itu sebetulnya bahasa juga. Tepatnya bahasa gambar. Kalau mau ditarik ke zaman sebelum ada tulisan, bahasa ini sudah dipakai untuk menceritakan aktivitas manusia pada masa itu. Pernah tho ngeliat film-film dokumenter tentang manusia gua? Pasti suka ada gambar di dinding gua yang menceritakan adegan perburuan atau ritual mereka lainnya.

Nah, foto juga gitu. Hasil motret itu diusahakan harus bisa menyampaikan pesan ke orang lain sama dengan yang kita tangkap saat menekan shutter. Ini gak cuma untuk foto jurnalistik lho, tapi hampir di semua genre fotografi. Makanya sebelum memotret, kita harus tau apa tujuannya. Motret model misalnya, apa yang kita mau sampaikan ke orang melalui foto ini? Apa kita mau bilang bahwa model ini senyumnya maut? Atau kerling matanya bisa bikin orang gemeter? Atau mau menampilkan keunggulan baju yang dipakai si model? Temuin dulu maunya apa, baru kemudian kamu pikirin soal teknisnya. Begitu kata suhu-suhu foto yang ngajarin saya waktu itu.

Ya betul juga sih, rasanya seneng banget kalau orang lain bisa bilang, “Wah..suasananya romantis ya di sana” atau “Beuh…kayaknya enak banget tuh baksonya”. Itu artinya foto kita berhasil ‘berbicara’. Saya, sebagai anak baru di dunia fotografi, cuma berusaha mengikuti apa yang diajarin sama mereka yang sudah lama main di sini. Ya tentu sambil belajar menambahi apa yang saya dapat dari mereka.

Contohnya nih, saat mau motret model di studio, saya dikasih teknik dasar tata cahaya dan sebagainya. Jadi saya harus tau berapa lampu sebaiknya yang dipakai, kecepatan rana berapa dan tipe lampunya apa aja supaya hasil fotonya sempurna secara teknis. Lha karena saya kepingin hasil foto saya gak cuma bagus secara teknis tapi juga harus bisa jadi foto yang ‘berbicara’, jadinya saya juga harus tau nomer telpon, alamat rumah si model dan hal-hal lain tentang si model. Eh ini bukan modus lho! 😀 Beneran deh. Ini penting supaya kita bisa berkomunikasi sama modelnya dengan baik. Kan ada ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang’ *oops*. Tapi ini serius kok, kalau si model merasa nyaman saat sesi pemotretan, pasti hasil foto kita bakal lebih enak dinikmati.

Oh iya, selain semua yang diajarkan ke saya itu tadi, ada satu hal lagi yang gak kalah penting. Kita harus percaya diri dan berani mencoba (eh itu jadi dua hal dong ya? bukan satu). Ya iya, bisa kebayang gak kalau fotografernya aja bingung, lha gimana yang lain? Makanya saya yang baru setahun belajar fotografi ini, selalu pede majang foto dari hasil coba-coba. Toh nanti bakal dibilang bagus kalau memang bagus, dan pasti juga bakal dikritik kalau banyak kurangnya. Silahkan tengok http://ragilduta.com kalau mau liat gallery foto saya. Hmmm…jadi ketauan deh, setelah ngecuprus sepanjang ini ternyata tujuannya cuma mau promote web gallery aja. Maaf yaa…hehehe. Etapi beneran, main-main aja ke sana. Gak jauh kok, cuma sekali klik aja udah nyampe 😉

Advertisements

5 thoughts on “Fotografi Itu Bahasa.

  1. Hmmm.. suamiku bukan fotografer tapi dia bilang apa yg bang Ragil omongin.. makanya dia suka banget take momen2 yang spontan, biar ada kesan dan pesan.. eh kayak buku kenangan aja :p

    Like

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s