Sang Penari.

Rezeki weekend itu memang bisa dalam bentuk apapun. Kadang berupa tawaran job, kadang berwujud gule sapi dan sate kambing, atau bisa juga ajakan nonton premiere sebuah film. Seperti weekend kemarin, saya diajak menonton premiere film Sang Penari.

Ya pastinya nggak nolak dong ya. Semua yang gratisan pasti saya comot 😀

Di awal film, saya langsung suka karena ngerasa terbawa ke daerah Dukuh Paruk. Dialog dan aksen lokal sangat kental di film ini. Ya walaupun belum pernah ke sana, tapi setidaknya sudah mewakili imajinasi saya tentang daerah itu. Karakter Srintil pun, secara fisik, menurut saya tergambarkan dengan baik oleh Prisia Nasution. Nggak lebay gitu deh. Saya ngerti kalau penari ronggeng itu mau nggak mau membawa citra sebagai idaman sebagian pria, tapi di film ini, gambaran itu nggak menjadi murahan di diri pemerannya. Apalagi didukung dengan cerita yang apik tentang latar belakang budaya ronggeng itu sendiri. Di sini saya nyaris menyamakan penari ronggeng dengan geisha. Tapi bedanya, geisha hanya melayani 1 pria dalam hal hubungan seks. Etapi ini pun referensi saya cuma dari film Memoirs of a Geisha 😀

Dari sisi cerita, saya ngerasa film ini melambat alurnya setelah Srintil menjadi penari ronggeng. Penonton yang duduk di sebelah saya pun terdengar mengorok di bagian ini, hehehe. Mungkin ini karena hendak membangun cerita masuknya partai merah -istilah ini sesuai di film, seingat saya di situ memang nggak menyebut PKI- di Dukuh Paruk. Agak sayang ngebangun ceritanya kurang seru, mungkin karena keterbatasan durasi atau alasan lain.

Scene saru penari ronggeng dan scene pembantaian anggota partai merah tersaji dengan baik. Penggambarannya soft banget. Yang agak komikal justru karakter-karakter para sersan anggota batalyon. Entah kenapa saya menangkap kesan film ini hendak melucu di bagian ini, tapi kurang pas.

Kalau adegan yang menjadi favorit saya, tentu saat Rasus memberi pepaya dan Srintil memakannya. Dialognya ok, dan kesan yang saya tangkap adalah romansa antara dua tokoh itu tertuang semua di sini.

Lalu saya juga suka ending film ini, campuran antara happy ending dan nggak happy ending. Gimana tuh maksudnya? Ya tonton aja filmnya tanggal 10 November, gak rugi deh. Ohiya…kalau nonton film ini jangan criwis karena beda sama novelnya ya. Ibarat makan tempe dan tahu, walau sama-sama dari kedelai ya tetap aja rasanya beda.

Semoga film yang memakan biaya 10M dan menguras energi penggarapnya selama 4 tahun -4 tahun ini konon dihitung sejak para producer berusaha mendapatkan hak produksi dari Ahmad Tohari sang penulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk- bisa memuaskan penonton Indonesia yang kangen film bagus. Amin.

Advertisements

7 thoughts on “Sang Penari.

  1. Yg main tetep cantik ya walopun blepotan pepaya 🙂 Dah lama ngga nonton pelem Indonesia, mudah2an yg ini bakal ada DVD nya. Tp adegan pembantaiannya vulgar ndak? *serem sama yg bau2 merah

    Ngecuprus:
    Gak vulgar kok. Asik-asik aja

    Like

  2. Jadi inget sekitar 13 tahun yang lalu (dooh, berasa tuirnya) ketika aku siaran, iseng ngasih quiz (ada hadiah yang harus dibagi dari sponsor) dengan pertanyaan: Sebutkan trilogi novel Ahmad Tohari.

    Dan surprise! surprise!
    Yang berhasil menjawab benar dari ratusan telepon yang masuk cuma sekitar 5%, dong.

    sigh …

    Entah itu karena gw yang salah kasih pertanyaan atau memang sastra Indonesia (kala itu) kurang dikenal.

    Ngecuprus:
    Tahun 98 ya? Gak tau deh, tahun segitu gw masih SMP *ngayal*

    Like

  3. Halooo holaaa…Waduh sori banget baru mampir lagi. Jadi malu. Iya nih…lagi senengnya posting foto ajah. Payah ya? Bentar lagi deh mulai pegang lagi, kalo sanggup mengaturnya hehe.

    Btw ini filemnya bagus gak Gil?

    Ngecuprus:
    Bagus, Mbak. Etapi gimana nontonnya kalau di Singapore?
    😀

    Like

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s