Awalnya karena cinta, akhirnya…

Saya termasuk yang percaya kalau dunia ini dimulai karena Tuhan cinta dengan pekerjaannya. Bayangin aja, dengan kekuatan dan kekuasaannya yang tanpa batas itu, kalau saya jadi Tuhan, saya akan menikmati hidup saya dan gak perlu repot-repot menciptakan dunia dan segala isinya. Tapi nyatanya, Tuhan menciptakan dunia yang eksotik ini.

Jadi, menurut saya, kalau beliau gak cinta, pasti gak mau repot-repot membuat dunia ini. Iya gak sih? Hehehe entah lah, Anda yang membaca blog saya ini bebas berpendapat. Tapi karena ini blog saya, jadi ya saya bebas menulis pendapat saya 🙄

Ok lah, cukup dengan pembicaraan soal Tuhan. Saya sebetulnya cuma mau menulis soal isi twitter kawan saya semalam. Kurang lebih dia menulis, dalam bahasa Inggris, “Apa yang Anda pilih? Keluarga atau karir? Atau malah keduanya?”

Saya sendiri tidak menjawab twit kawan saya itu. Saya malah jadi teringat obrolan dengan kawan baik saya beberapa tahun silam. Kawan yang sangat saya dengar dan juga mau mendengar saya, sayang sekarang kita udah gak bisa saling dengar :mrgreen: Ada sedikit cerita kenapa kita gak lagi bisa saling dengar, kalau mau baca, buka aja halaman ini.

Waktu itu kami berdiskusi soal kerjaan. Panjang lebar deh obrolannya. Sampai kemudian kami sepakat bahwa apapun yang kami mulai, harus berdasar cinta. Lebay ya? Waktu itu sih enggak.

Jadi kalau menurut kawan saya itu, sejak kita mulai bekerja atau memulai usaha, landasannya harus cinta. Iya sih, kita kerja itu untuk mendapatkan uang yang akan kita pakai untuk mencukupi kebutuhan dasar kita. Tapi dasar semua itu, lanjut kawan saya, sadar atau gak sadar adalah karena kita cinta dengan hidup kita. Coba kalau kita gak cinta (dengan diri kita), gak usah kerja aja.

Diam aja di rumah, gak usah cari uang dan mati kelaparan. Toh kita gak cinta sama diri kita” begitulah kata dia waktu itu.

“Nah kalau kita mati karena gak bisa makan, itu akan meringankan beban kita dan juga mungkin meringankan beban orang disekeliling kita. Hidup itu selamanya banyak masalah. Dan kalau kita gak cinta sama diri kita, masalah itu bakal jadi beban, bukan tantangan” katanya sembari melemparkan satu persatu kulit kacang yang ada di meja ke arah saya sambil senyum-senyum. Kawan saya ini memang hobby merusak konsentrasi saya dengan cara apapun kalau kita sedang sok berdiskusi. Katanya biar saya gak fokus dan gak bisa ngelawan argumentasi dia. Ampun deh.

Saya sih, sebetulnya bisa menangkap apa inti dari ocehannya waktu itu. Kesimpulannya, kalau kita melakukan sesuatu, harus dengan cinta. Kalau gak bisa, cari cintanya selagi kita mengerjakan sesuatu itu. Kalau kita bekerja dengan rasa cinta, kita gak bakal ngerasa susah. Ada teman saya yang terpaksa meninggalkan karirnya demi keluarga. Dia waktu kerja sebagai karyawan bank, dan saat harus berhenti kerja, karirnya sudah mulai bagus. Jelas sebuah pilihan yang berat. Tapi ya itu tadi, karena dia cinta dengan apa yang dia kerjakan, akhirnya dia menemukan cara untuk bekerja dari rumah. Entah jadi konsultan atau apalah namanya, saya gak ngerti istilah-istilah di dunianya.

Sementara saya sendiri, kayaknya sih, mulai ketemu dengan cinta sejati saya. Lha iya, kalau kemarin-kemarin itu saya berusaha menemukan cinta di dalam dunia yang saya tekuni, eh ternyata, saya malah nemu cinta di bidang yang lain. Dan makin hari, rasanya saya makin yakin dengan yang satu ini. Cuma saya gak mau terlalu sembrono untuk pindah profesi, banyak yang harus disiapkan. Ya sama aja kayak kita mau jadian sama pacar kita, banyak yang harus disiapin. Termasuk juga harus siap dengan kemungkinan ditolak 😆

Banyak yang bilang bahwa kalau kita bisa mendapat penghasilan dari sesuatu yang kita kerjakan karena kesenangan, rasanya akan sangat memuaskan. Tapi saya pernah baca twitter Arbain Rambey, dan ada kawan saya yang fotografer juga menunjukkan kata-kata itu di lain kesempatan, saya lupa persisnya gimana kalimat Arbain Rambey tapi intinya dia bilang, kita akan kehilangan kesenangan pada aktivitas fotografi pada saat kita melakukan aktivitas itu sebagai fotografer profesional. Pada twitnya yang lain, Arbain Rambey menyebutkan definisi profesional adalah orang yang melakukan sesuatu untuk mencari pendapatan.

Saya sih sudah pernah merasakan itu. Saya dulu suka musik, tapi jadi kurang menikmati musik saat saya membantu kawan-kawan saya memproduseri sebuah band yang vokalisnya sekarang mau disuruh nikah di pesawat sama bapaknya. Eh bener gak sih gosip itu? 😆

Mungkin memang benar apa yang disebutkan sama Arbain Rambay soal hilangnya kesenangan. Tapi saya sih gak masalah. Toh kesenangan itu bisa dicari dari sisi yang lain. Kalau aktivitasnya sendiri sudah kurang menyenangkan karena adanya batasan dan karena harus mengikuti maunya client, toh kita masih bisa menemukan kesenangan dari hebohnya persiapan pra kegiatan, senangnya utak-atik budget, senangnya berinteraksi dengan orang-orang yang seprofesi dan lain-lain.

Dan saya rasa wajar kalau kesenangan menjadi berkurang karena adanya tanggung jawab yang harus kita hadapi dalam profesi kita. Sama aja lah kayak nikah. *oops* 🙄 😆

Advertisements

3 thoughts on “Awalnya karena cinta, akhirnya…

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s