Produksi Film Indonesia, menurut saya.

Sebetulnya saya bukan orang film, cuma kebetulan aja kerja di PH. Kantor saya ini juga bukan PH yang membuat film. Kami lebih sering produksi iklan layanan masyarakat, filler dan video profile.

Tapi karena ada dua blogger yang nanya soal film, saya mau coba jawab menurut yang saya tahu.

Pertama pertanyaan dari Elia Bintang yang sempat nanya pas saya posting Pontang-Panting beberapa bulan yang lalu. Eh sebetulnya ini bukan pertanyaan, tapi request. 🙂

Soal produksi film itu pastinya ribet, sejak pra produksi juga sudah ribet. Bahkan sebelum pra produksi, kita sudah dibikin mumet sama penentuan alur cerita, pemilihan pemain, pemilihan crew, pembiayaan, pemilihan lokasi dan banyak lagi.

Saya gak berani bahas lebih jauh soal produksi film, karena memang belum punya pengalaman di situ. Tapi kalau boleh dibandingkan dengan apa yang kantor saya kerjakan, mungkin bedanya gak terlalu banyak.

Di bidang saya, kalau di atas kertas sudah matang, proses selanjutnya ya pra produksi itu tadi. Kita mulai casting, berburu lokasi, cari wardrobe, dan mencari crew yang tersedia untuk produksi di tanggal yang telah ditentukan.

Sumpah, hal-hal di atas itu gak gampang. Karena walaupun semua hal sudah disepakati bersama antara PH dan client saat PPM (Pre Production Meeting), kenyataannya semua bisa berubah saat kita mulai prosesnya. Contoh aja, karena waktu yang mepet, urusan perijinan sewa lokasi suka molor karena masalah birokrasi, di sini kreatifitas produser sangat diperlukan. Entah itu mencari alternatif lokasi lain (yang jelas-jelas harus minta persetujuan dari client lagi), atau “nego” dengan pengelola lokasi supaya ijin cepat keluar. Gampang? Enggak juga, karena semua yang “berbau” dadakan itu biasanya berimbas ke membengkaknya biaya produksi. Akhirnya, produser juga yang harus putar otak nyiasatin masalah biaya.

Saya sih membayangkan di produksi film itu pasti tingkat “kehebohannya” lebih tinggi. Wajar, karena yang mereka urus jauh lebih banyak dan besar dibanding apa yang kami urus.

Tapi intinya, produksi apapun pasti melibatkan unsur perencanaan dan eksekusi. Di bidang kami, 70% keribetan ada di perencanaan atau pra produksi. Kalau di bagian itu lancar, maka saat produksi relatif akan lancar juga. Nanti di saat paska produksi, tinggal mempercantik. Tapi bukan berarti paska produksi atau editing itu mudah. Bisa aja tiba-tiba client minta animasi yang aneh-aneh di sini 😀

Ya intinya, seperti pekerjaan lain, produksi film dan video itu ribet. Tapi menyenangkan.

Dan kalau banyak yang bilang film Indonesia itu jelek, solusinya gampang kok. J a n g a n  n o n t o n film yang jelek. Terbukti sekarang kita punya banyak film bagus, iya kan?

Sekarang, pertanyaan dari Nana yang doyan serial Korea itu. Di postingan saya yang Ngecuprus soal Film, Nana ngebandingin sinetron Indonesia dengan Korea.

Kenapa secara teknis, kita kalah dari Korea? Ya sebetulnya, konon ada sinetron kita yang bagus. Cuma saya jarang nonton sinetron, jadi gak bisa nunjuk sinetron mana yang bagus dan mana yang jelek.

Tapi kalau dengar cerita kawan-kawan, kebanyakan memang bilang sinetron kita ancur lebur :mrgreen:

Kalau soal ini, saya pernah dengar keluhan beberapa kawan yang terlibat di produksi sinetron. Mereka bilang, sinetron itu sudah kayak bikin barang produksi massal. Jadi estetika kadang digampangin, yang penting target produksi tercapai.

Nah, bisa dibayangkan gimana ancurnya penghayatan artis pemain sinetron? Untuk menghayati satu peran kan dibutuhkan waktu yang gak singkat, lha ini kadang disodori skenario dalam waktu 2 minggu sebelum shooting. Padahal saat itu si artis masih shooting untuk sinetron yang lain. Bahkan kalau sinetronnya sudah berjalan, si artis bisa jadi baru disodori naskah dialog pada saat ia sampai di lokasi shooting.

Kenapa bisa gitu? Karena, jangan lupa, sinetron itu hidup dari rating. Jadi kalau rating drop, bisa jadi Eksekutif Produser memberi titah untuk merubah alur cerita. Kalau alur cerita berubah, ya pasti dialog berubah.

Ada cerita dari kawan saya yang penulis skenario, suatu hari produser minta perubahan karakter dari salah satu tokoh di sinetronnya. Dia minta tokoh itu dibuat agak lembut, karena rasanya di beberapa episode si tokoh ini terlihat terlalu kejam. Setelah jalan sekian episode, ternyata rating justru anjlok. Ya jadilah kawan saya itu didera-dera suruh balikin skenario sesuai awal 😀

Dari sisi sutradara, DOP dan crew lain, masalah waktu juga jadi kendala. Karena untuk menghasilkan sudut pengambilan gambar yang bagus itu butuh waktu lama karena banyak sekali yang harus ditata. Semua itu jelas gak bakal tercukupi kalau mereka dituntut menyelesaikan 3 episode dalam 1 hari.

Jadi, singkatnya, balik lagi masalahnya ke perencanaan. Kalau gak ada perencanaan dan persiapan yang bagus, ya mustahil bisa bikin karya yang bagus. Kalau mau lebih detail, mending ikut langsung proses produksi film dan sinetron 😀

Dan kalau mendengar cerita kawan saya tadi, ternyata, penonton ikut andil “merusak”. Karena rating kan yang menentukan penonton. Iya tho?

Advertisements

3 thoughts on “Produksi Film Indonesia, menurut saya.

  1. salam..
    maaf sebelumnya,,.saya hanya mau bertanya..
    di mana tempat (PH)untuk menawarkan sekenario film atau sinetron..karna saya susah sekali menemukan PH atau yang lainya..untuk pengajuan tsb..trimakasih..saya tunggu jawabannya…

    Like

  2. asaamu’alaikum…
    mengutip kata CakNun…
    bahwa memang begitu adanya dimana naskah biasanya datang telat atau saat film sudah deket mau dibuat dan tidak ada waktu untuk menjiwai peannya. beda dengan jaman dulu dimana naskah jauh-jauh harin telah diserahkan..

    Like

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s