Olimpiade China.

China, negara yang sebagian besar penduduknya tidak paham berbahasa Inggris itu sebentar lagi bakal menggelar Olimpiade. Pasti akan terjadi kehebohan di sana. Heboh bagi yang datang, karena mereka bakal ngalamin kendala bahasa.

Yang sudah pernah ke Beijing pasti akan ngerasa gimana sulitnya berkomunikasi dengan penduduk setempat. Beberapa belas tahun yang lalu, ada kawan saya yang berkunjung ke China. Sebut saja namanya Debibir Nyinyir. Si Debibir ini sempat cerita soal kesulitannya sewaktu hendak memesan makanan di sebuah resto. Karena khawatir dengan makanan yang tidak halal, si Debibir ini berusaha bertanya apakah makanan yang dia pesan mengandung daging babi. Sayangnya, untuk sekedar menyebut babi saja sulitnya minta ampun. Segala cara dia coba. Mulai dari menyebut pig, ham, pork sampai kemudian menirukan suara nguik-nguik pun dilakukan. Si pelayan resto akhirnya paham bahwa kawan saya, si Debibir Nyinyir itu, hendak menyinggung soal babi. Tapi kemudian yang terjadi adalah, si pelayan pikir, kawan saya itu hendak memesan babi. Maka usaha kedua pun dilakukan. Dengan bersuara nguik-nguik, si Debibir menggoyangkan telapak tangan dan menggeleng-gelengkan kepala tanda menolak. Ah, seandainya waktu itu sudah ada hp berkamera, pasti sudah ada orang yang merekam scene itu. Singkat cerita, akhirnya Debibir berhasil memesan makanan tanpa unsur babi. Caranya? Ya dengan menggambar kepala babi dan mencoret gambar kepala itu dengan tanda silang. Okay, mission accomplish.

Nah, kejadian yang mirip kayak gitu masih terulang lagi dengan sepupu dan kawannya yang baru saja pulang dari China kurang lebih sebulan yang lalu. Sebut saja nama mereka berdua adalah, Denikahkan Dini dan Alinum Gambreng.  Mulai dari kebengongan mereka karena tour guide yang dengan pedenya ngecuprus dalam bahasa lokal untuk menjelaskan beberapa lokasi pariwisata yang terkenal, sampai ke masalah memesan makanan. Sama seperti si Debibir beberapa belas tahun yang lalu itu.

Sebetulnya nasib Denikahkan dan Alinum ini agak sedikit lebih baik dibanding si Debibir, karena sekarang di China sudah ada banyak resto dengan international franchise seperti di negara kita. Misalnya aja resto yang menjual pizza seperti, karena saya tidak mau menyebut brand maka kita sebut saja, Kizza Nut. Maka ketika mereka kesulitan memesan makanan di sebuah resto, si Denikahkan dan Alinum ini pindah ke Kizza Nut. Tapi apa yang terjadi? Ternyata daftar menu di situ tertulis dalam bahasa lokal. Maka konflikpun cerita si Debibir pun berulang. Cuma bedanya, di Kizza Nut ini ada satu pramusaji yang bisa bahasa Inggris walaupun tidak lancar. Maka dia ditunjuklah dia oleh rekan-rekannya untuk menghadapi dua petarung turis-nekat ini.

Lalu apa yang terjadi kalau ada dua turis-nekat dan satu pramusaji-korban yang sama-sama tidak lancar berbahasa internasional? Soal pesanan, beres dan tidak ada masalah. Itu seandainya si turis memesan menu yang standar. Sayangnya, si Denikahkan dan Alinum ini maunya banyak banget. Seperti misalnya, makanan yang mereka pesan tidak mau diberi garnish.

Wohohoho..anda ingat tadi bagaimana si Debibir sampai harus menirukan suara babi dan melakukan gerakan tubuh untuk sekedar meminta makanan tanpa daging babi? Sekarang coba anda memesan fettuccine tanpa daun parsley. Ingat, di sana mereka tidak kenal kata parsley. Dan daun parsley pun tidak bisa kita tirukan suaranya. Jadi apa yang terjadi? Si pelayan-korban itu selalu menundukan kepala dan selalu pura-pura sibuk kalau melewati meja si turis-nekat itu. Ya ampun, kasian sekali nasibmu kawan.

Cerita di atas sebetulnya hanya sekedar usaha saya menggambarkan sedikit kondisi negara China tentang minimnya penguasaan bahasa internasional oleh sebagian besar penduduknya. Cerita itu mungkin tidak 100% akurat karena saya hanya ambil sedikit-sedkit dari cerita mereka yang sudah pernah kesana. Saya sebetulnya hanya mau bilang, kalau China yang sebagian besar penduduknya belum siap menghadapi turis asing saja bisa menyelenggarakan Olimpiade, kenapa kita tidak? Bahkan mengadakan Pekan Olahraga Nasional pun masih belepotan di sana-sini.  Sayang sekali ya?

5 thoughts on “Olimpiade China.

  1. Gil, kutukan elo dicabut donk, sekarang gw yang tepar di rumah gara2 radang tenggorokan….elu tuh tega deh masa cuma gara2 kacang bikin kutukan….

    — sukurin

    Like

  2. Ya mungkin karena orang cina sudah profesional dari dulunya. Etos kerja mereka kan bagus banget.
    — etos kerja orang kita juga bagus kok, cuma sayangnya belum banyak yang begitu.

    Lagian Olimpiade tarafnya internasional sementara PON taraf nasional saja.
    — lho? justru kalau mau bagus di internasional, harusnya yang taraf nasional dibagusin dulu dong.

    Like

  3. saya baca pemerintahnya make a lot efforts utk olimpiade ini, nge training panitia nya spy ramah thd tamu, yg bukan sifat natural org cina (menurut saya loooh soalnya kalo ke restauran cina mereka cuek sama customernya)

    ragilduta:
    yang penting kan ada effort dan niat ya

    Like

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s