Minakjinggo.

Miring enak, jengking monggo. Seperti itu celotehan mba – mba pemasok anggaran belanja daerah pada saat saya bersama tim produksi melakukan shooting di daerah Rawa Malang untuk sebuah produsen bir ternama. Mereka ini sering terpinggirkan hanya karena cap PSK yang mereka sandang.

Di lain sisi, mereka ini adalah andalan untuk menarik pemasukan bagi kas daerah. Jadi sebetulnya mereka ini PSK atau PSA, Pekerja Seks Andalan?

Jual beli seks memang sudah lama ada. Konon katanya, pelacur itu adalah profesi tertua di dunia. Mungkin yang betul adalah, pelacur dan hidung belang adalah profesi tertua di dunia. Lha kan gak mungkin melacur kalau gak ada lawannya? Lagian kenapa ada istilah pelacur, sedangkan yang menggunakan lacur ini hanya sering disebut dengan kata kiasan hidung belang? Kenapa gak ada istilah khusus untuk mereka? Atau sudah ada tapi saya yang enggak tau namanya? Bisa jadi, karena saya memang gak terlalu kenal dengan dunia itu.

Tentang kasus penggembokan celana tukang pijat itu juga, lagi – lagi, mba – mba pemijatnya yang jadi korban. Kenapa harus digembok? Bikin aja ruang terbuka. Toh cowo kalau dipijat masih bisa pakai celana pendek. Jadi gak akan malu kalau harus pijat di ruangan semacam bangsal gitu. Paling si pengelola panti agak repot kalau kebetulan kedatangan pelanggan yang exhibitionist.

Ya tapi daripada pasang gembok? Toh alarm mobil yang canggih aja bisa dibongkar maling kok. Apalagi cuma gembok kecil imut – imut itu. Dibanding dengan besarnya *disensor* milik si mba pemijat yang dapat memancing gairah itu, apalah arti sebuah gembok kecil. Kalau dua – duanya emang pengen, ya bisalah dicari jalan keluarnya. Tul gak?

Lagipula kalau mau cari jasa penjaja seks juga gak perlu ke panti pijat. Di semua lapisan ekonomi masyarakat, jasa seks itu ada dan gampang dicari. Mau yang kelas jutaan rupiah atau mau yang kelas satus seket alas sukettelungatus alas kerdus, semua ada.

Kalau mau dihilangkan, bukan gembok yang kita perlu tapi pendidikan moral dan (juga) campur tangan pembuat kebijakan.

“Gil, tukang pijetnya dah mau pulang tuh” Aih ternyata saya tertidur pas sedang dipijat di rumah. Pantes ngomongnya bener. Lha kalau di rumahkan harus jaim. Bayar tukang pijetnya dulu ah.

Advertisements

5 thoughts on “Minakjinggo.

  1. Alaaahhh sok jaim lo Gil….bukannya kemaren lo merengek2 sampe kejerrr…minta password buat buka gemboknya….

    Btw, gw ikut prihatin buat yang mijit elo….kudu minum kukubima extra strong ginseng kaya nya…lah yang dipijet body nya lebaaaaaaarrrrr…selebarrrrr landas pesawat…*kaboooorrrr*

    *aaaahh nikmatnya bisa menghina semena-mena*

    Like

  2. Gw sempet nonton beritanya di TV, berkat MNC di starhub (ternyata ada gunanya juga, biar gw gak ‘asing’ bgt dg berita2 dari tanah air…terutama yg kayk gini nih.

    Berasa ‘bego’ gak siy…hihi nontonnya

    Wong namanya ‘nafsu’ dihalangi dengan solusi hasil pemikiran orang ‘jaman batu’. Mana mempan laaaahhh

    Eit…ternyata penikmat pijit juga dikau! haha

    Like

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s