Tugu Nasional

Ini hasil plesiran tempo doeloe bareng Sahabat Museum yang di kepala sukui oleh Adep. Sudah pasti seru. Apalagi tema kali ini adalah Arsitektur Kebangsaan. Jadi ceritanya (soedah pasti) seputar sejarah dan juga komentar – komentar dari Mas Bambang Eryudhawan a.k.a Mas Yuda yang berhubungan dengan gaya arsitektur gedung – gedung itu. Sayangnya gue lupa latar belakang Mas Yuda, maklum deh memori terbatas, tapi pokoknya dia paham banget lah sama yang dia omongin. Gue curiga jangan – jangan dia itu time traveler. Haiyah mulai ngayal lagi deh.

Saking banyaknya info yang gue terima hari itu, terpaksa tulisannya gue bagi jadi beberapa episode. Episode ini soal Tugu Nasional. Foto – foto (yang sedikit itu) ada disini tapi karena digital camera gue rusak mendadak, jadi terpaksa pakai kamera hand phone. Hasilnya ya gitu lah.

Konon katanya, pembangunan kawasan MONAS ini terpikir oleh Bung Karno setelah beliau kembali dari India. Dulunya di kawasan ini bakal ada gedung opera, gedung theater, museum – museum dan Tugu Nasional. Pokoknya bakal jadi landmark kebanggaan bangsa Indonesia yang baru merdeka sekaligus juga bagian dari kampanye melupakan masa kolonial. Tugu Nasional, yang saat ini sudah salah kaprah dengan istilah Tugu Monas, awalnya diusulkan oleh Sarwoko yang masa itu menyebutkan tinggi 45 meter untuk Tugu Nasional. Bung Karno menolak, karena menurut beliau 45 meter itu kurang dahsyat *ini bahasa gue siy*. Akhirnya disepakati angka 132 meter untuk ketinggian tugu. Itupun sekarang ini sudah tenggelam sama gedung – gedung sekitar. Gimana kalau jadi 45 meter?

Ada cerita menarik soal pembangunan tugu ini. Dulu pembangunannya berbarengan dengan masjid Istiqlal tapi prioritas Bung Karno adalah Tugu Nasional. Waktu itu ada yang menanyakan soal itu dan dijawab oleh Bung Karno seandainya dia sudah tidak jadi Presiden, pasti akan ada yang melanjutkan pembangunan masjid tapi kalau tugu yang terlantar, belum tentu penerus Bung Karno akan melanjutkan proyeknya. Masuk akal juga dan terbukti sampai saat ini kita ngga pernah (mampu) membuat proyek – proyek seperti itu.

Mungkin ada yang bilang gak penting. Tapi coba liat deh, Amerika punya Liberty, Perancis punya Eiffel dan yang terbaru di sebelah kita adalah Malaysia dengan menara kembarnya. Gedung – gedung itu bukan hanya jadi simbol kebanggaan tapi juga ikon wisata yang menarik bagi turis asing. Lha kita merawat yang ada aja susah, sekalinya merawat malah salah kaprah. Kalau menurut mas Yuda, dari sisi arsitektur atau landscape *atau moral ya mas?*, penempatan bunga bangkai palsu disekeliling Tugu Nasional itu sangat tidak cocok. Itu lebih cocok untuk taman Suropati atau taman Menteng, pokoknya taman yang bisa buat foto bareng teletubbies lah. Gue setuju, karena menurut gue bunga buatan gak seharusnya ada di tempat yang melambangkan sejarah perjuangan. Menurut cerita, taman bunga bangkai ini sumbangan PT. Gudang Garam dengan biaya puluhan milyar dan bakal terlihat indah kalau dilihat dari atas.

Haiyah, apa target turis kita itu sebangsa Superman?

Advertisements

2 thoughts on “Tugu Nasional

Silakan ngobrol di kolom ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s